Nani Afrida
04 April 2021•Update: 05 April 2021
Shweta Desai
PARIS
Paris mendesak Teheran pada Sabtu untuk lebih "konstruktif" dan "menahan diri tidak melakukan pelanggaran lebih lanjut" dari komitmen yang merusak dialog mendatang di Wina tentang kesepakatan nuklirnya yang terhenti.
Merespons desakan itu, Iran mengatakan Prancis harus mencabut sanksi ilegal saat AS dan Iran bersiap untuk melanjutkan dialog.
Diskusi antara Prancis dan Iran berlangsung selama panggilan telepon antara menteri luar negeri Jean-Yves Le Drian dan Javad Zarif.
Le Drian mengatakan lewat sebuah pernyataan bahwa dia mendorong Iran untuk mengidentifikasi tindakan yang diperlukan untuk "sepenuhnya kembali mematuhi perjanjian nuklir."
Ia menambahkan, semua pemangku kepentingan sudah menunjukkan kesediaan untuk melakukan negosiasi dengan itikad baik, dengan tujuan tercapainya kesepakatan yang lebih cepat.
Sejak pemerintahan Presiden AS baru Joe Biden berkuasa, kelompok negara-negara E3 - Prancis, Jerman dan Inggris - telah melakukan negosiasi "jalur belakang" untuk menyatukan AS dan Iran dalam melestarikan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) yang macet.
Mantan Presiden AS Donald Trump memberlakukan sanksi ketat pada 2018 untuk Iran setelah secara sepihak menarik diri dari perjanjian tersebut.
Parlemen Iran mengancam akan menghentikan inspeksi wajib oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) jika AS tidak mencabut sanksi hingga 21 Februari.
Teheran mengulangi seruannya pada Uni Eropa dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB untuk sepenuhnya mematuhi kewajiban di bawah JCPOA
Zarif mengatakan, ia mendesak Prancis untuk menunjukkan sikap konstruktif terhadap JCPOA pada pertemuan Wina.
"Saya meminta Prancis untuk menghormati komitmennya berdasarkan perjanjian, dan berhenti mematuhi sanksi ilegal yang dijatuhkan oleh AS," tulis Zarif di akun sosial medianya Twitter.