Maria Elisa Hospita
30 Januari 2019•Update: 30 Januari 2019
Wassim Seifeddine
BEIRUT
Perancis membantah tuduhan bahwa mereka telah meminta Israel berhenti menyerang Lebanon sebelum kabinet baru diumumkan di Beirut.
Sebelumnya, media lokal mengutip Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian yang mengatakan bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron berencana membatalkan rencana kunjungan ke Lebanon bulan depan, jika kabinet baru negara itu belum diumumkan.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa Prancis telah menangguhkan dukungan bagi tentara Lebanon untuk menentang kelanjutan aktivitas militer Hizbullah.
"Prancis mengamati situasi di Lebanon dan berharap agar pemerintah baru segera dibentuk di sana," kata Kedutaan Besar Perancis di Lebanon lewat sebuah pernyataan.
Dalam pernyataan itu, kedutaan menekankan perlunya "menjamin kedaulatan, stabilitas, dan keamanan Lebanon".
Menurut harian Israel, Maariv, para pejabat Prancis mendesak Presiden Israel Reuven Rivlin untuk menahan diri dari menyerang Lebanon.
Sejak Lebanon mengadakan pemilihan parlemen pada Mei tahun lalu, Perdana Menteri Saad Hariri telah berjuang menyusun pemerintahan baru.
Proses ini terus-menerus tertunda karena banyaknya tuntutan dari berbagai pihak.
Berdasarkan konstitusi Lebanon, perdana menteri yang ditunjuk tidak punya batas waktu untuk mengungkap susunan kabinet baru.
Akhir tahun lalu, pasukan Israel menghancurkan sejumlah terowongan - yang diduga digali oleh Hizbullah - yang menghubungkan Lebanon Selatan dengan Israel.