Muhammad Abdullah Azzam
19 Mei 2020•Update: 19 Mei 2020
Sofya Hocabasi
TRIPOLI
Perdana Menteri Libya Fayez al-Sarraj pada Senin memuji keberhasilan pasukannya yang telah merebut kembali pangkalan udara Al-Watiya dari milisi jenderal pemberontak Khalifa Haftar.
Sebelumnya pada Senin pagi, tentara Libya telah merebut kembali pangkalan udara utama setelah sekitar enam tahun berada di tangan putschist alias pasukan kudeta.
"Kami dengan bangga mengumumkan pembebasan pangkalan militer Al-Watiya dari cengkeraman milisi kriminal," kata al-Sarraj dalam sebuah pernyataan.
"Kemenangan hari ini tidak menandai akhir dari pertempuran. Sebaliknya, itu membawa kita lebih dekat ke hari besar kemenangan dengan membebaskan semua kota dan wilayah, kemudian menghilangkan secara permanen proyek dominasi dan tirani yang dipimpin oleh Haftar," tutur dia.
Sementara itu, tentara Libya mengatakan pangkalan udara Al-Watiya akan diaktifkan setelah seluruh wilayah sekitarnya diamankan. Bandara tersebut akan berkontribusi pada pembebasan wilayah selatan lainnya, termasuk kota Tarhouna.
Al-Watiya dianggap sebagai pangkalan udara utama di negara itu.
Pangkalan udara tersebut diduduki oleh Haftar, komandan bersenjata yang berbasis di Libya Timur, sejak Agustus 2014.
Milisi Haftar menggunakannya sebagai markas untuk operasi di wilayah-wilayah barat.
Pasukan Haftar melancarkan serangan ke pemerintah Libya sejak April 2019, hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Pemerintah Libya kemudian meluncurkan Operasi Badai Perdamaian pada 26 Maret untuk melawan serangan-serangan di ibu kota.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.