Rhany Chairunissa Rufinaldo
03 April 2019•Update: 04 April 2019
Md. Kamruzzaman
DHAKA, Bangladesh
Bangladesh menyerukan repatriasi yang aman dan cepat bagi pengungsi Rohingya yang berlindung di kamp-kamp sementara di distrik Cox’s Bazar, lansir United News of Bangladesh.
"Ini akan menjadi baik untuk semua jika Rohingya dapat dipulangkan ke negara mereka sesegera mungkin, memastikan keselamatan dan keamanan mereka," kata Perdana Menteri Sheikh Hasina, ketika menerima Komisaris Tinggi Inggris untuk Dhaka yang baru ditunjuk Robert Chatterton Dickson di kediaman resminya, Selasa.
Merujuk pada penderitaan penduduk setempat karena banyaknya pengungsi Rohingya, dia mengatakan pemerintahnya melakukan yang terbaik untuk merehabilitasi orang-orang yang teraniaya, sekretaris pers Hasina mengutipnya dalam jumpa pers setelah kunjungan Dickson.
Dickson mendukung seruan Bangladesh untuk pemulangan langsung Rohingya dalam hal keselamatan dan martabat.
Hasina also urged the Myanmar authorities to implement the recommendations put forward by the commission headed by the late UN Secretary-General Kofi Annan to resolve the Rohingya crisis.
Hasina juga mendesak pemerintah Myanmar untuk mengimplementasikan rekomendasi yang diajukan oleh komisi yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan untuk menyelesaikan krisis Rohingya.
"Sekitar 40.000 bayi telah dilahirkan di kamp-kamp pengungsi yang kumuh," tambah dia.
Kelompok yang teraniaya
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.
Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira'
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.
PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.