Chandni
15 November 2017•Update: 15 November 2017
SAN FRANCISCO
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada Senin mengesahkan produk "pil pintar" untuk pertama kalinya. Keputusan itu menuai kecaman dari kelompok advokasi konsumen yang menggatakan pengguna harus hati-hati.
Pil itu memiliki sensor-sensor kecil yang mengirimkan data apakah pasien sudah minum pil itu atau belum.
Langkah itu dipuji sebagai gebrakan dalam dunia medis digital, namun juga dikecam karena alasan privasi dan biaya.
Pil bernama Abilify MyCite itu diproduksi oleh perusahaan Jepang Otsuka Pharmaceutical dan menggunakan sensor buatan Proteus Digital Health. Abilify adalah obat anti-psikis yang diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan mental seperti schizophrenia dan bipolar disorder.
Sensor itu sekecil butiran pasir dan bisa 'nyala' ketika mendeteksi asam lambung. Pil itu kemudian mengirimkan informasi kepada aplikasi ponsel agar keluarga atau perawat pasien tahu dia sudah meminum obat tersebut.
"Kemampuan mendeteksi konsumsi obat untuk pasien gangguan mental sangat penting bagi beberapa pasien," kata Mitchell Mathis dari FDA dalam pernyataannya.
"FDA mendukung perkembangan dan penerapan teknologi baru untuk obat-obatan dan bertekad bekerja sama agar semakin mengerti cara teknologi bisa membantu pasien," jelas Mathis.
Pencipta Abilify MyCite percaya obat itu akan membuka jalan bagi obat-obatan lain untuk memecahkan masalah dimana pasien tidak mengikuti perintah dokter.
"Ini waktu yang tepat untuk menyediakan obat digital bagi pasien-pasien yang membutuhkannya," kata CEO Proteus Andrew Thompson.
Namun, kemampuan melacak konsumsi obat-obatan seseorang itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan lembaga pro-privasi seperti Electronic Frontier Foundation.
"Sebelum anda menelan ini, pastikan anda tahu data medis sensitif apa saja yang bisa direkam, data itu digunakan untuk apa dan disimpan dalam bentuk apa," cuit mereka di laman Twitter.