İqbal Musyaffa
03 Desember 2018•Update: 03 Desember 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pertemuan para pemimpin negara-negara anggota G20 atau 20 negara dengan ekonomi terbesar di dunia yang berlangsung di Buenos Aires, Argentina telah usai.
Setelah pertemuan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan catatan tentang pertemuan tersebut yang diunggahnya melalui laman Facebook, Minggu.
Dia menilai pertemuan G20 di Argentina berbeda dengan semangat saat forum ini pertama kali dibentuk 10 tahun silam pada 2008.
“Tahun 2018 adalah sepuluh tahun sejak G20 Leaders dibentuk pada tahun 2008, di tengah situasi krisis ekonomi Amerika Serikat dengan bangkrutnya Lehman Brothers dan perusahaan asuransi dunia AIG yang memicu kepanikan dan krisis keuangan seluruh dunia,” tulis Menteri Sri, Minggu.
Sebagai Menteri Keuangan pada masa itu, Menteri Sri melihat jatuhnya perekonomian Amerika Serikat menjalar ke Eropa yang menimbulkan kepanikan global.
Semua negara di dunia berupaya melindungi perekonomiannya, melalui berbagai kebijakan yang tidak biasa.
Bank Sentral Amerika Serikat (Fed) menurunkan suku bunga secara drastis dari di atas 5 persen menjadi mendekati nol persen, dan masih ditambah dengan Quantitative easing - injeksi likuiditas melalui pembelian surat berharga.
“Pemerintah Amerika melakukan talangan (bail out) ke sektor riil dari perusahaan mobil hingga properti dengan pembelian aset macet dan surat berharga,” lanjut Menteri Sri.
Inggris dan European Union melakukan hal yang sama yaitu melakukan penalangan bank yang gagal untuk menghentikan kepanikan publik dan menginjeksi sektor riil dengan ekspansi fiskal.
“Seluruh negara di dunia mengalami akibat krisis tersebut. Saya ingat semua negara ASEAN, Australia dan Selandia Baru melakukan kebijakan blanket guarantee dengan menjamin penuh sektor perbankan untuk meredakan kepanikan dan ketidakpastian,” tambah dia.
Dalam situasi kepanikan global, Menteri Sri menceritakan Menteri Keuangan Amerika Serikat menelpon Menkeu negara-negara anggota G20, untuk membentuk forum G20 Leaders tingkat pimpinan negara.
“Selain itu, Menteri Keuangan AS juga mengundang para pimpinan negara untuk bertemu dalam rangka menyelamatkan ekonomi dunia yang mendekati kehancuran,” kisah Menteri Sri.
Menteri Sri menceritakan pada pertemuan pertama G20 Leaders 2008 di Washington DC Amerika Serikat dan pertemuan kedua 2009 di London Inggris, para pemimpin dunia bersepakat untuk bersama-sama menyelamatkan ekonomi dunia dari kehancuran dengan kebijakan moneter, fiskal dan mendorong sektor riil untuk mengembalikan stabilitas dan kembali mendorong pertumbuhan ekonomi.
Fokus lain yang sangat penting adalah melakukan reformasi regulasi dan kebijakan sektor perbankan dan keuangan untuk menghindarkan krisis keuangan kembali terjadi.
Pada tahun 2008, semua pemimpin negara G20, menurut Menteri Sri, kompak sepakat menyelamatkan ekonomi dunia dengan kebijakan ekonomi satu arah dan saling mendukung, karena mereka percaya bahwa ekonomi global harus dijaga bersama.
“Sebagai Menkeu saat terjadinya krisis ekonomi dunia, Indonesia juga melakukan berbagai langkah strategis di bidang perbankan dan kebijakan fiskal yang suportif untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia untuk tidak terkena imbas negatif keguncangan ekonomi global,” kata Menteri Sri.
Dia mensyukuri Indonesia dapat melalui dengan selamat dan termasuk dalam kategori sebagian kecil dari negara emerging yang masih memiliki pertumbuhan relatif tinggi dan stabilitas sektor keuangan tetap terjaga.
Sepuluh tahun berlalu, pertemuan G20 di Buenos Aires, Argentina menurut dia, berada dalam suasana yang berbeda.
“Kekompakan, kebersamaan, dan kesepakatan bersama sepuluh tahun yang lalu seperti menguap,” keluhnya.
Selain pemulihan ekonomi masih belum merata, kebijakan ekonomi antara negara semakin tidak sinkron dan tidak searah.
Dia menyayangkan ketegangan terjadi akibat kebijakan konfrontasi perdagangan, normalisasi kebijakan moneter, dan kenaikan suku bunga the Fed yang tidak disukai oleh Presiden Trump sehingga menimbulkan arus modal keluar dan gejolak nilai tukar di negara emerging.
“Harga komoditas terutama minyak bumi yang naik turun seperti roller coaster dan persaingan kebijakan pajak yang berlomba saling menurunkan (race to the bottom),” ucap dia.