Meryem Goktas
AFRIN, Suriah
Bertahun-tahun berlalu sejak pembebasannya, seorang wanita yang dipenjara oleh rezim Suriah tetap menjaga ingatannya tentang perjuangan untuk membantu wanita lain seperti dia yang berjuang setelah melarikan diri dari penjara.
Berbicara kepada Anadolu Agency, Sundus Fulfule mengatakan bahwa dia dijebloskan ke penjara Adra di Damaskus pada 16 Mei 2011, ketika sedang mengandung.
Sebelumnya, wanita lulusan sekolah keperawatan dan teologi itu tinggal di Latakia, di mana dia mengajar hukum Islam untuk siswa kelas 10 dan 11.
Setelah 11 bulan dipenjara, Fulfule harus menghidupi putrinya di lingkungan baru dan terlibat dalam misi bantuan kemanusiaan.
"Jelas, dalam revolusi Suriah, yang paling lemah adalah wanita dan anak-anak, jadi saya memilih untuk bekerja ke arah ini. Setiap hari, saya akan membuat pengalaman baru, melatih wanita dan memberi mereka dukungan psikologis," tutur dia.
Fulfule mengatakan bahwa yang paling rentan adalah wanita yang dibebaskan dari penjara.
"Wanita yang selamat dari penjara membutuhkan semua jenis dukungan, seperti ekonomi dan psikologis serta tempat berlindung," ujar dia.
Fulfule mengatakan dia bekerja dengan banyak wanita yang menjadi korban pemerkosaan, mencatat bahwa tidak ada yang merawat mereka dengan baik.
"Ada terlalu banyak kasus untuk dihitung dan mereka terus meningkat," kata dia, menyerukan tindakan segera bagi wanita yang terus mengalami kekerasan seksual dan penahanan.
Menurut Gerakan Hati Nurani, sebuah organisasi nonpemerintah internasional, lebih dari 13.500 wanita dipenjara sejak perang sipil Suriah dimulai pada awal 2011, sementara lebih dari 7.000 wanita masih ditahan, di mana mereka mengalami penyiksaan, pemerkosaan dan kekerasan seksual.
Gerakan ini adalah aliansi individu, kelompok hak asasi dan organisasi yang bertujuan untuk mengamankan tindakan mendesak bagi pembebasan perempuan dan anak-anak di penjara rezim Suriah.
Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR) pada Rabu mengumumkan bahwa lebih dari 14.070 warga sipil tewas karena penyiksaan oleh pasukan rezim Bashar al-Assad sejak awal perang sipil, termasuk 173 anak-anak dan 45 wanita.
Mengenang masa penahanan
Ketika revolusi dimulai di provinsi Daraa, Suriah, Fulfule mengatakan bahwa wanita di Latakia terinspirasi oleh gerakan itu dan mulai turun ke jalan untuk mengadakan protes damai.
"Dengan sopan santun dan moral, tanpa mendurhakai negara, kami memulai protes. Kami hanya menuntut perubahan dan perbaikan dan menyerukan kemudahan prosedur penahanan. Awalnya, protes ini tidak dilakukan karena jatuhnya rezim Assad," ungkap dia.
Fulfule mengatakan demonstrasi menyerukan hak-hak orang yang ditangkap, keadilan dan kenaikan upah.
"Tiba-tiba saja pintu masuk dan keluar dari daerah kami ditutup, lalu sekelompok orang mulai bergabung dengan massa protes bersama dengan pasukan keamanan intelijen dan menangkap saya," jelas dia.
Wanita berusia 40 tahun itu menambahkan bahwa ketika penyelidikan dimulai, para tahanan mulai memahami bahwa semuanya sudah dipersiapkan, termasuk tuduhan terhadap mereka, menambahkan bahwa dia dituduh melakukan terorisme.
Melahirkan di dalam penjara
"Ketika saya ditangkap, putri pertama saya berusia delapan bulan dan saya sedang hamil anak kedua," kata Fulfule.
Setelah menghabiskan empat bulan di penjara, tentara rezim memberi kabar palsu kepada keluarganya bahwa dia sudah meninggal dunia.
"Kontraksi kelahiran saya dimulai dan mereka membawa saya ke rumah sakit militer," ujar dia.
Fulfule menggunakan kesempatan ini untuk meminta seorang perawat mengabarkan keluarganya.
"Syukurlah dia mau membantu dan saya menelepon dan memberi tahu mereka bahwa saya masih hidup," tutur dia.
Menyaksikan penyiksaan dan kekerasan seksual
Setelah melahirkan di rumah sakit, Fulfule dipindahkan kembali ke penjara.
Dia mengaku menyaksikan setiap jenis pelecehan terhadap narapidana lain, dari pelanggaran hak asasi manusia hingga pelecehan seksual.
Dia menceritakan bahwa ketika petugas ingin menyiksa seseorang, mereka akan membawanya ke koridor penjara, lalu suara penyiksaan dan bau kulit terbakar akan terdengar dan tercium di mana-mana.
"Terus terang, saya tidak menyaksikan pemerkosaan [terhadap narapidana lain] dengan mata saya sendiri, tetapi saya melihat hasilnya, yaitu kehamilan," kata Fulfule.
"Sebagian besar dari mereka melahirkan di penjara dan keluar, lalu menyembunyikan bayi mereka dari semua orang," tambah dia.
Kebebasan yang disuap
Ketika Fulfule menghubungi keluarganya, mereka menghabiskan sejumlah besar uang untuk menyuap jaksa dan setelah 11 bulan, dia bisa keluar dari penjara.
"Tidak ada yang yang paling sulit selain anak saya tidak mengenali ibunya," ujar di, seraya menambahkan bahwa putrinya hampir berusia dua tahun ketika mereka bertemu lagi.
Berbicara tentang perjuangan yang dihadapinya sebagai seorang wanita yang baru dibebaskan dari penjara dan diabaikan oleh suaminya, Fulfule menceritakan tentang migrasi ke bagian utara Suriah.
"Salah satu hal yang paling mempengaruhi saya adalah suami saya tidak menerima saya. 'Kamu pantas menerimanya. Siapa yang menyuruhmu menghadiri protes?' katanya. Lalu saya mengambil anak-anak saya dan pergi," tutur dia
Setelah dibebaskan, Fulfule tidak bisa lagi pulang dan tidak punya pilihan selain melarikan diri dari wilayah itu karena pasukan keamanan intelijen masih mencarinya.
Memasuki tahun kesembilan konflik Suriah, dia menyatakan keprihatinan utamanya, yaitu masa depan anak-anaknya.
"Saya tidak ingin anak-anak berada dalam situasi ini. Saya ingin mereka menjalani kehidupan yang indah di lingkungan yang aman," tukas Fulfule.
news_share_descriptionsubscription_contact
