Hayati Nupus
15 Juni 2019•Update: 16 Juni 2019
Michael Hernandez
WASHINGTON
Sekjen PBB Antonio Guterres pada Jumat mendesak penyelidik independen untuk menginvestigasi serangan pada dua kapal tanker minyak di Teluk Oman baru-baru ini.
"Sangat penting untuk mengetahui kebenaran," kata Guterres kepada wartawan di markas PBB di New York. "Jelas, itu hanya dapat dilakukan jika ada entitas independen yang memverifikasi fakta-fakta. Jadi, apa pun yang terjadi di komunitas internasional, kami akan mendukung inisiatif itu, asalkan benar-benar independen."
Dia mengatakan, bagaimanapun, penyelidikan seperti itu perlu disetujui oleh Dewan Keamanan.
AS menuduh Iran bertanggung jawab atas serangan itu, merujuk video yang menunjukkan pasukan Iran mengeluarkan ranjau dari salah satu kapal yang diserang di dekat Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.
Presiden AS Donald Trump maupun pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengesampingkan dialog untuk meredakan ketegangan.
Konflik antara Washington dan Teheran mencapai puncaknya sejak Trump secara sepihak menarik AS dari pakta internasional yang bertujuan mengekang program nuklir Iran dengan imbalan miliaran dolar dari sanksi ekonomi pada Mei 2018.
Sejak itu Pemerintahan Trump terus berupaya untuk membatalkan perjanjian, yang telah diteken oleh Prancis, Rusia, Jerman, Inggris, China, Iran dan Uni Eropa.
Upaya-upaya untuk melemahkan kesepakatan memunculkan kembali sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran yang dicabut sebagai bagian dari perjanjian, dan melumpuhkan ekspor vital Iran.
Keputusan itu memperoleh kecaman keras dari Iran, di tengah gencarnya upaya diplomatik dan ekonomi lewat “kampanye tekanan maksimum” agar Iran kembali ke perundingan nuklir dan kegiatan regional lain yang disebut AS mengganggu stabilitas.
Selat Hormuz adalah jalur laut vital yang dilewati sepertiga gas alam cair dunia dan seperlima konsumsi minyak setiap hari.