Chandni
17 April 2018•Update: 18 April 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
PBB pada Senin untuk pertama kalinya menambahkan angkatan bersenjata Myanmar ke daftar kelompok yang "sangat diduga" melakukan kekerasan seksual di kawasan konflik.
"Ancaman dan kekerasan seksual adalah bagian dari strategi mereka, dengan tujuan mempermalukan, meneror, dan menghukum komunitas Rohingya agar mereka segera melarikan diri dan tidak pernah balik," bunyi laporan PBB itu mengenai angkatan bersenjata Tatmadaw.
"Kekerasan itu masih ada hubungannya dengan berita palsu yang menyebar mengenai tingkat kesuburan yang tinggi di komunitas Rohingya, sehingga semua menanggap mereka sebagai ancaman terhadap mayoritas," lanjut laporan itu.
Rohingya, yang disebut PBB sebagai orang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan meningkat atas serangan yang membunuh puluhan orang pada kekerasan komunal pada 2012.
Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750.000 warga Rohingya menyeberang dari Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB. Setidaknya 9.000 Rohingya tewas di Rakhine antara 25 Agustus dan 24 September, menurut lembaga Dokter Lintas Batas (MSF).
Dalam sebuah laporan tertanggal 12 Desember, MSF mengatakan 71,7 persen Rohingya atau sekitar 6.700 orang tewas akibat kekerasan. Itu termasuk 730 anak-anak dibawah usia 5 tahun.
Delegasi dari Dewan Keamanan PBB akan ke Bangladesh dan Myanmar bulan ini untuk melihat langsung kondisi pengungsi Myanmar.
Sebanyak 15 duta besar dewan akan melakukan kunjungan itu antara 26 April hingga 2 Mei.