Dunia

Migran Afghanistan tuding pasukan Iran siksa mereka sebelum dibebaskan di perbatasan Turki

Para migran gelap mengatakan mereka berjalan ke provinsi Van selama 45 hari, dan membayar sekitar USD1.000 kepada penyelundup manusia untuk perjalanan berbahaya

Mesut Varol, Necmettin Karaca, Şener Toktaş   | 29.07.2021
Migran Afghanistan tuding pasukan Iran siksa mereka sebelum dibebaskan di perbatasan Turki Ilustrasi sekelompok migran melakukan perjalanan lewat darat untuk menjangkau negara tujuan (Foto file - Anadolu Agency)

Van

VAN/BITLIS, Turki

Beberapa migran gelap Afghanistan mengungkapkan bahwa mereka dipukuli oleh tentara Iran dalam tahanan sebelum dibebaskan di perbatasan Turki.

Gulab Jemili, seorang warga Afghanistan yang secara ilegal memasuki provinsi Van timur Turki, mengatakan dia bersama dengan orang lain bermigrasi ke Iran karena konflik di negara mereka.

Tetapi mereka ditangkap dan mendapatkan perlakuan buruk oleh tentara Iran.

Ratusan migran gelap Afghanistan, Pakistan, dan Bangladesh memasuki Turki secara ilegal melalui Iran, baik dengan kendaraan atau berjalan kaki melintasi jarak jauh.

Selama perjalanan berbahaya mereka ke Eropa untuk mencari kehidupan yang lebih baik, mereka berkomunikasi satu sama lain menggunakan aplikasi smartphone.

Namun, mayoritas dari mereka terjebak oleh orang berniat buruk di sepanjang jalan, di mana beberapa di antaranya tewas dan lainnya ditahan di Turki.

Berbicara kepada Anadolu Agency, Jemili menuduh bahwa tentara Iran menyiksa semua tahanan dan membunuh beberapa temannya sebelum mendorong mereka ke perbatasan Turki. pasukan Iran juga mencuri pakaian dan uang mereka.

Namun, klaimnya tidak diverifikasi secara independen.

"Setelah menyeberang ke Turki, kami jatuh ke tangan penyelundup manusia, mereka mengambil USD1.000 dari kami. Kami melakukan perjalanan dengan berjalan kaki ke beberapa lokasi dan dengan kendaraan ke tempat lain," terang dia.

Jemili mengatakan mereka melakukan perjalanan selama lebih dari satu setengah bulan.

"Semua orang hancur... Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di Afghanistan, ada perang. Sekolah kami dibom. Jika kami tetap tinggal dan berperang, kami tidak akan tahu siapa yang akan kami lawan; sesama saudara saling membunuh. Kami terpaksa melakukan perjalanan ke Iran, tetapi mereka memukuli kami dan mengusir kami ke Turki," urai Jemili.


- 220 orang diangkut di dalam truk

Mohammed Tenha, seorang warga Afghanistan yang tiba di daerah Tatvan di tepi barat Danau Van, mengatakan negaranya mengalami masalah parah karena banyak kerabatnya tewas selama konflik bersenjata yang sedang berlangsung.

“Saya belum makan roti selama empat hari terakhir. Kami telah berjalan selama 45 hari sekarang. Mereka menahan kami di Iran, dan saya menghabiskan tiga hingga empat hari di kantor polisi. Kemudian mereka menyuruh kami ke Turki, atau kembali ke Afghanistan. Mereka mengancam akan menyakiti saya jika mereka melihat saya dalam lima hari,” tutur dia.

Tenha mengklaim bahwa dia dan warga Afghanistan lainnya memasuki Turki secara ilegal dan membayar uang kepada orang Iran yang mengangkut imigran.

"Saya memberikan 1.200 dolar, dan seorang teman membayar 1.500 dolar," kata dia.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın