26 Juli 2017•Update: 27 Juli 2017
BRUSSEL
Menjadi seorang jurnalis bukan berarti membebaskan seseorang untuk melakukan kejahatan, kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dalam rangkaian acara diskusi dengan pejabat Uni Eropa (UE), di Brussel, Selasa.
Pejabat UE yang hadir di antaranya kepala kebijakan luar negeri UE Federica Mogherini, Komisioner Pengembangan UE Johannes Hahn, dan Menteri Urusan UE Turki Omer Celik.
“Kami berperang melawan organisasi-organisasi teroris. Kami menjadi korban upaya kudeta dan kami tidak mendapat cukup dukungan dari Uni Eropa. Dukungan penuh baru didapat setelah satu tahun, namun dukungan dengan pernyataan,” kata Cavusoglu.
Ia menambahkan bahwa siapapun yang terlibat dalam percobaan kudeta 15 Juli 2016 di Turki atau mendukung kudeta – termasuk tentara, anggota kepolisian, politikus, atau jurnalis – adalah sama saja.
“Oleh karena itu, jika kita tidak tahu perbedaan antara perlawanan demokratis yang sesungguhnya dengan pihak yang mendukung terorisme, masalah bisa saja muncul karena itu,” tegasnya.
Cavusoglu juga mengatakan Turki siap untuk berbagi informasi dengan UE terkait hal ini. Ia menjelaskan bahwa keadaan darurat yang sedang berlangsung di Turki beroperasi sesuai Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia dan tidak berbeda dengan kebijakan yang diberlakukan di Perancis.
FETO
Menteri Cavusoglu mengatakan kegagalan UE mengakui Organisasi Teroris Fetullah (FETO) sebagai kelompok teroris menunjukkan bahwa UE memandang setiap langkah yang dilakukan oleh pemerintah Turki sebagai pelanggaran hukum.
Menurut Cavusoglu, Taner Kilic, Ketua Amnesti Internasional Turki – yang saat ini dalam tahanan – telah berkomunikasi dengan tokoh senior FETO di luar negeri melalui aplikasi mobile ByLock.
Aplikasi ByLock diduga digunakan oleh anggota FETO selama percobaan kudeta tahun lalu. Bylock telah diretas oleh badan keamanan Turki, memungkinkan mereka mengidentifikasi puluhan ribu pendukung FETO.
Turki menuding FETO sebagai dalang di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan pemerintah melalui infiltrasi institusi-institusi Turki, khususnya militer, kepolisian, dan kejaksaan.
FETO dan pimpinannya Fetullah Gulen mendalangi percobaan kudeta 15 Juli 2016, mengakibatkan 250 orang tewas dan 2.200 orang luka-luka.
Dilaporkan oleh Hasan Esen; Ditulis oleh Fatih Hafiz Mehmet