14 September 2017•Update: 15 September 2017
BERLIN
Otoritas Imigrasi Jerman telah menolak lebih dari 5.000 permohonan suaka yang diajukan oleh warga Turki, kata media lokal, Rabu.
Harian Jerman Tagesspiegel melaporkan bahwa Kantor Federal untuk Migrasi dan Pengungsi (BAMF) telah menerima 8.547 permohonan suaka yang diajukan warga Turki, dan menolak sebanyak 5.040 permohonan diantaranya.
BAMF tidak memberikan alasan rinci mengenai penolakan tersebut. Pejabat BAMF mengatakan bahwa masing-masing permohonan telah ditinjau berdasarkan Undang-Undang Suaka Jerman.
Duta besar Jerman mengatakan, permohonan suaka dari warga Turki telah meningkat sejak adanya percobaan kudeta di Turki tahun lalu. Sebagian besar permohonan suaka diajukan oleh warga asal Kurdi.
Permohonan suaka dari mantan pejabat yang terlibat dalam percobaan kudeta Juli 2016 telah menjadi sumber konflik Ankara dan Berlin. Beberapa mantan tentara dan pejabat yang diduga memiliki hubungan dengan komplotan pengkudeta juga masuk ke Jerman dari negara-negara tetangga atau Turki, dan mengajukan permohonan suaka.
Setelah kegagalan kudeta, beberapa perwira militer Turki yang ditempatkan di pangkalan NATO di Jerman melanggar perintah dari Ankara dengan kembali ke Turki.
Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maiziere menyebutkan, baru-baru ini, 615 warga Turki dengan paspor diplomatik atau tugas telah mengajukan permohonan suaka di Jerman.
Percobaan kudeta Juli lalu yang menewaskan 250 jiwa dan menyebabkan hampir 2.200 luka-luka didalangi oleh Organisasi Teroris Fetullah (FETO) dan pimpinannya Fetullah Gulen.
Turki menuding FETO berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan pemerintahan melalui infiltrasi institusi-institusi Turki, khsusunya militer, kepolisian, dan pengadilan.
Meskipun Ankara telah berulang kali meminta Jerman untuk memulangkan terduga FETO ke Turki untuk diadili, hingga saat ini Otoritas Jerman telah menolak permintaan tersebut dengan alasan bahwa Ankara harus terlebih dahulu memberikan bukti hukum yang sah.
Jerman yang merupakan rumah bagi tiga juta imigran Turki adalah salah satu negara tempat kelompok Gullen melebarkan sayap organisasinya, termasuk puluhan bisnis, sekolah swasta, dan juga organisasi media.