Rhany Chairunissa Rufinaldo
21 Februari 2019•Update: 22 Februari 2019
Ayhan Simsek
BERLIN
Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt pada Rabu mengatakan Jika dijalankan dengan cara yang salah, Brexit akan menjadi bencana, bukan hanya untuk Inggris, tetapi untuk seluruh Eropa.
Hunt menegaskan kembali permintaannya untuk perubahan untuk kesepakatan Brexit yang sederhana namun penting pada konferensi pers dengan Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas.
"Teks yang ada saat ini menggunakan kata 'sementara' untuk menggambarkan backstop, jadi apa yang perlu kita lakukan adalah merinci dengan jelas makna sementara yang sebenarnya," katanya.
Hunt berpendapat bahwa perubahan pada pengaturan backstop Irlandia yang kontroversial akan membantu pemerintahan Perdana Menteri Theresa May untuk mendapatkan dukungan parlementer atas kesepakatan Brexit.
May menderita kekalahan yang luar biasa atas kesepakatan Brexit bulan lalu, di mana mayoritas anggota parlemen menolak rancangan perjanjian penarikan Uni Eropa karena takut pengaturan backstop untuk perbatasan Irlandia dapat memaksa Inggris mengikuti aturan Uni Eropa untuk waktu yang tidak ditentukan.
Uni Eropa mendesak adanya pengaturan backstop untuk menghindari perbatasan yang kaku antara anggota Uni Eropa, Republik Irlandia dan Irlandia Utara, setelah Brexit.
Menurut draf perjanjian, jika Uni Eropa dan Inggris tidak bisa menyelesaikan negosiasi tentang hubungan mereka di masa depan hingga 31 Desember 2020, pengaturan backstop akan berlaku dan Irlandia maupun Irlandia Utara akan tetap menjadi bagian dari wilayah pabean UE-Inggris.
Sementara itu, Maas menyoroti bahwa semua anggota UE berharap Inggris akan keluar dengan tertib dan mencari cara untuk menghindari Brexit yang kaku.
“Semua orang tampaknya bekerja keras untuk melakukannya. Tapi sepertinya kita belum bisa menemukan jalan yang benar. Dan waktu adalah esensi,” katanya.
"Saya sangat menerima kenyataan bahwa diskusi menjadi lebih konkret," tambahnya.
Inggris dijadwalkan untuk meninggalkan Uni Eropa pada akhir Maret sebagai hasil dari referendum 2016, di mana warga Inggris memutuskan untuk meninggalkan blok itu setelah lebih dari 40 tahun keanggotaan.