Pizaro Gozali Idrus
20 Februari 2020•Update: 21 Februari 2020
Cindi Cook
PARIS
Presiden Prancis mengecam serangan rezim Assad yang terus menargetkan warga sipil di Idlib, Suriah.
"Saya mengutuk keras serangan rezim Bashar Assad terhadap penduduk sipil di Idlib," kata Emmanuel Macron kepada wartawan saat tiba pada pertemuan para pemimpin Uni Eropa di Brussels, ibu kota Uni Eropa.
"Tidak ada alasan untuk tidak menghormati hukum humaniter internasional," kata dia dan menegaskan serangan itu juga menargetkan bangunan sipil dan pusat kesehatan.
Dewan Keamanan PBB, kata dia, harus mengambil tanggung jawab dan tegas dalam situasi ini.
Macron meminta agar pertempuran ini dapat berakhir secepatnya.
"Saya telah melihat salah satu peristiwa kemanusiaan terburuk di Idlib selama beberapa pekan terakhir."
Suriah telah berkubang dalam perang saudara mematikan sejak awal 2011 ketika rezim Bashar al-Assad melancarkan tindak kekerasan terhadap gelombang pro-demokrasi.
Sejak itu, ratusan ribu orang tewas dan lebih dari 10 juta lainnya mengungsi, menurut PBB.
Idlib, yang berada dekat perbatasan selatan Turki, ditetapkan sebagai zona de-eskalasi atas kesepakatan antara Turki dan Rusia pada akhir 2018.
Namun, rezim Suriah dan sekutu-sekutunya, secara konsisten melanggar ketentuan-ketentuan gencatan senjata dan meluncurkan serangan di wilayah di mana tindakan kekerasan secara tegas dilarang.
Zona de-eskalasi saat ini menjadi rumah bagi sekitar 4 juta warga sipil, termasuk ratusan ribu pengungsi dalam beberapa tahun terakhir yang melarikan diri dari kekejaman rezim Assad di seluruh wilayah Suriah.
Sekitar 1 juta pengungsi di Idlib juga telah bergerak menuju perbatasan Turki dalam beberapa bulan terakhir untuk melarikan diri akibat serangan rezim Assad dan sekutunya.
Turki menyerukan penghentian serangan terhadap Idlib dan meminta rezim Assad mematuhi kesepakatan gencatan senjata.
Turki juga memperingatkan elemen-elemen rezim Assad bahwa jika serangan tidak berhenti, Turki akan bertindak.