Korban Banjir Asia Tembus 1.400, Hampir 1.000 Orang Masih Hilang
Bencana berupa banjir, longsor, badai, hingga siklon dilaporkan menimbulkan kerusakan luas di Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, India, dan Thailand
ANKARA
Banjir besar yang dipicu hujan deras di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara menewaskan lebih dari 1.400 orang, sementara hampir 1.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang, menurut data pemerintah setempat. Operasi pencarian, penyelamatan, dan penyaluran bantuan terus berlangsung di berbagai wilayah terdampak.
Bencana berupa banjir, longsor, badai, hingga siklon dilaporkan menimbulkan kerusakan luas di Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, India, dan Thailand. Desa-desa terendam, evakuasi massal, serta kerusakan infrastruktur disebut menghambat distribusi bantuan dan upaya penyelamatan.
Di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan banjir dan longsor di Pulau Sumatra menelan 770 korban jiwa, dengan 463 orang masih hilang. BNPB menyebut lebih dari 3,2 juta orang terdampak, sementara lebih dari satu juta warga mengungsi dan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Sekitar 2.600 orang juga dilaporkan mengalami luka-luka di wilayah terdampak banjir di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh. Tim gabungan pencarian dan penyelamatan masih melanjutkan operasi di berbagai titik untuk menemukan korban yang belum diketahui keberadaannya.
Pemerintah pusat mengirim lebih dari 40 ton bantuan darurat ke wilayah Sumatra, termasuk makanan, air, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya.
BNPB menyebut bantuan ini diprioritaskan untuk respons darurat, bersamaan dengan operasi pencarian dan penyelamatan, terutama bagi warga yang masih terisolasi.
Militer Indonesia juga dikerahkan untuk menjangkau komunitas yang terputus akibat kerusakan jalan. Otoritas menyatakan kebutuhan alat berat dan akses yang lebih baik mendesak dipenuhi karena puluhan ribu orang masih mengungsi dan sejumlah wilayah tetap terisolasi.
Indonesia juga disebut mengerahkan seluruh kekuatan nasional, termasuk militer, untuk mempercepat respons darurat dan mendukung administrasi sipil.
Bencana ini disebut sebagai yang paling mematikan di Indonesia sejak 2018, ketika gempa besar dan tsunami di Sulawesi menewaskan lebih dari 2.000 orang. Sebuah lembaga kajian di Indonesia, Center of Economic and Law Studies, memperkirakan banjir yang masih berlangsung di Sumatra berpotensi menimbulkan kerugian Rp 68,67 triliun (sekitar 4,1 miliar dolar AS).
Di Sri Lanka, banjir dilaporkan berdampak pada lebih dari 1,5 juta orang. Jumlah korban meninggal tercatat mencapai 465 orang, sedangkan 366 orang masih hilang setelah negara kepulauan tersebut diterjang Siklon Ditwah pada 17 November.
Media lokal News 1st melaporkan otoritas memindahkan 232.752 orang ke 1.433 pusat pengungsian, sementara ratusan rumah mengalami kerusakan akibat banjir besar.
Lembaga meteorologi setempat pada Rabu memperingatkan potensi hujan tambahan mulai Kamis di Provinsi Utara, Irlandia Utara-Tengah (North Central), Timur, Uva, dan Tengah.
UNICEF pada Selasa menyatakan Siklon Ditwah memicu krisis kemanusiaan yang memburuk bagi anak-anak di Sri Lanka, dengan lebih dari 275.000 anak termasuk dalam kelompok terdampak.
Pemerintah Sri Lanka juga telah mengerahkan personel militer untuk mendukung administrasi sipil dalam operasi pencarian, penyelamatan, dan bantuan.
Pengiriman bantuan dari sejumlah negara dilaporkan mulai berdatangan setelah Presiden Anura Kumara Dissanayake pada Sabtu menetapkan keadaan darurat dan meminta bantuan internasional. Pakistan, pada Selasa, mengirim 200 ton bantuan kemanusiaan ke Sri Lanka melalui kargo laut.
Di India, sedikitnya empat orang dilaporkan meninggal dalam insiden terkait hujan di negara bagian Tamil Nadu, India tenggara, ketika Siklon Ditwah disebut masih berada di sekitar pesisir negara bagian tersebut.
Sementara itu, Thailand mengumumkan paket bantuan bagi korban banjir di wilayah selatan. Pemerintah Thailand menyetujui tiga langkah bantuan, yakni penundaan pembayaran kredit selama 12 bulan, pinjaman tanpa bunga selama 12 bulan, dan pinjaman untuk perbaikan rumah, menurut Departemen Hubungan Masyarakat pemerintah Thailand melalui platform X pada Rabu.
Banjir di Thailand dilaporkan menewaskan sekitar 176 orang dan berdampak pada lebih dari dua juta orang.
Kabinet Thailand juga menyetujui bantuan pemakaman sebesar 2 juta baht (sekitar 62.000 dolar AS) per korban, serta anggaran 530 juta baht (sekitar 16 juta dolar AS) untuk pemulihan Kota Hat Yai di Provinsi Songkhla yang disebut mengalami kerusakan berat akibat banjir terparah dalam 25 tahun terakhir.
Di Malaysia, situasi dilaporkan mulai membaik seiring air surut. Namun, banjir di tujuh negara bagian dekat perbatasan Thailand disebut menewaskan tiga orang dan memengaruhi ribuan warga.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
