Pizaro Gozali İdrus
08 April 2019•Update: 09 April 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Kelompok HAM Rohingya di Bangladesh mengatakan lebih dari 20 orang tewas dan 50 lainnya luka-luka dalam serangan udara pada 3 April oleh Angkatan Darat Myanmar, lansir Canindia.
Masyarakat Arakan Rohingya untuk Perdamaian dan Hak Asasi Manusia (ARSPH) mengatakan penduduk desa Rohingya sedang mengumpulkan bambu di sungai dekat Phon Nyo Leke ketika helikopter militer Myanmar terbang rendah dan menembaki warga Rohingya.
“Lebih dari 20 orang tewas dan lebih dari 50 lainnya terluka. Banyak orang yang tangan dan kakinya hancur oleh bom,” kata ARSPH dalam sebuah pernyataan.
ARSPH dibentuk oleh warga Rohingya setelah eksodus pada 2017 untuk memperjuangkan nasib komunitas Muslim tersebut.
ARSPH membantah pernyataan militer pada 5 April lalu yang menyebut enam warga Rohingya tewas karena berkomplot dengan kelompok teroris.
"Ini benar-benar informasi yang salah," kata ARSPH dan menambahkan itu adalah bukti bahwa militer terus "mengambil setiap kesempatan untuk melakukan pembersihan terhadap Rohingya dari tanah air mereka.”
Tentara Myanmar mengkonfirmasi kematian enam Rohingya yang dianggap, berkolaborasi dengan kelompok pemberontak Arakan Army.
Januari lalu, Pemerintah Myanmar meminta militer menumpas pemberontakan Arakan Army, di negara bagian Rakhine.
Juru bicara pemerintah Myanmar Zaw Htay mengatakan pemimpin pemerintah Myanmar Aung San Suu Kyi sudah membahas serangan gerilyawan terhadap polisi Myanmar dalam pertemuan dengan kepala militer.
Pemerintahannya menyerukan pasukan bersenjata untuk "menghancurkan" pemberontak.
"Kantor presiden telah menginstruksikan militer untuk melancarkan operasi untuk menumpas para teroris," ujar Zaw Htay.
Pertempuran antara pasukan pemerintah dan pemberontak Arakan Army di negara bagian barat Rakhine telah menempatkan ribuan orang dalam pengungsian sejak awal Desember, menurut PBB.
Arakan Army menginginkan otonomi yang lebih besar bagi Rakhine, dengan kelompok etnis Rakhine yang mayoritas beragama Budha.
Pemerintah Myanmar telah memerangi berbagai kelompok pemberontak etnik minoritas tak lama setelah kemerdekaan dari Inggris pada 1948, meskipun beberapa telah mencapai kesepakatan gencatan senjata.