Ayhan Simsek
21 Februari 2022•Update: 21 Februari 2022
BERLIN
Menteri Kehakiman Jerman Marco Buschmann mengakui kegagalan negara itu dalam menangani masalah rasisme dan diskriminasi.
“Kami belum dapat melindungi sesama warga kami dari kebencian dan kegilaan yang mematikan yang telah tumbuh di masyarakat kami,” ujar dia dalam sebuah pernyataan, memperingati tahun kedua serangan teror rasis di Hanau baru-baru ini.
“Adalah tugas kita untuk belajar dari kegagalan ini. Ketika kekerasan mulai terbentuk dalam kata-kata dan sikap, negara harus turun tangan untuk menghentikannya. Selama orang-orang di negara kita menderita dan mati karena beberapa menyebut mereka "orang asing", kita tidak memenuhi tanggung jawab yang berasal dari sejarah kita, tambah dia.
Pada 19 Februari 2020, ekstremis sayap kanan Tobias Rathjen menyerang dua kafe di kota Hanau, menewaskan sembilan anak muda dan melukai lima lainnya. Semua korban memiliki latar belakang migran.
Sebelum serangan itu, ekstremis sayap kanan memposting video di internet yang merinci pandangan bahwa dia anti migran, dan kemudian dia membunuh ibunya dan dirinya sendiri.
Jerman telah menyaksikan peningkatan rasisme dalam beberapa tahun terakhir yang dipicu oleh kelompok-kelompok sayap kanan, yang telah mengeksploitasi ketakutan tentang krisis pengungsi.
Pihak berwenang menghadapi kritik, terutama dari organisasi hak asasi manusia, karena meremehkan ancaman sayap kanan dan tidak serius menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh ekstremis sayap kanan.