Maria Elisa Hospita
24 Juli 2018•Update: 25 Juli 2018
Anees Suheil Barghouti
YERUSALEM
Israel menolak usulan Rusia untuk mempertahankan pasukan Iran di Suriah, 100 kilometer (62 mil) dari garis gencatan senjata Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Usulan itu dibuat selama perundingan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Kepala Staf Militer Valery Vasilyevich Gerasimov pada Senin di Yerusalem.
"Orang-orang Rusia membicarakan tentang zona penyangga dan berkomitmen untuk itu. Sementara kami membicarakan keberadaan senjata jarak jauh di luar zona ini, dan seluruh kekuatan itu harus meninggalkan Suriah," kata seorang pejabat Israel seperti dilansir oleh harian Israel Yediot Aharonoth.
Pejabat itu, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena ada pembatasan berbicara kepada media, mengatakan tawaran Rusia untuk menetapkan zona penyangga 100-km, area tanpa keberadaan pasukan Iran maupun milisi pro-Teheran, adalah langkah pertama menuju arah yang benar.
"Israel menuntut semua rudal jarak jauh untuk dipindahkan dari Suriah dan setiap pabrik yang memproduksi peluru kendali presisi di sana harus ditutup," kata dia lagi.
Pejabat itu menambahkan, "Selain itu, Yerusalem telah meminta Moskow untuk menjamin semua sistem pertahanan udara yang melindungi rudal akan dibawa keluar dari Suriah,"
Dia mengatakan, Tel Aviv juga meminta penutupan jalur perlintasan antara Suriah - Lebanon - Irak "untuk mencegah penyelundupan senjata Iran ke Suriah".
Israel kerap menuding Teheran mengeksploitasi konflik yang sedang berlangsung di Suriah - di mana Iran mendukung rezim Bashar al-Assad - demi keberadaan militer permanen di dekat perbatasan Israel.
Rusia yang juga mendukung rezim Assad, tetap menjalin komunikasi yang erat dengan para pejabat militer Israel untuk menghindari terjadinya bentrokan.