Maria Elisa Hospita
27 Agustus 2018•Update: 28 Agustus 2018
Abdul Raouf Arnaout
YERUSALEM
Pemerintahan Yerusalem telah menyetujui rencana untuk memperluas area ibadah gender campuran di Tembok Ratapan (Western Wall), Yerusalem.
Rencana itu disetujui oleh pejabat kota setelah mendapat tekanan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Menurut harian Haaretz, rencana itu mencakup perluasan area doa gender campuran sekaligus pintu masuknya.
Area doa gender campuran berada di dalam kompleks Masjid al-Aqsa, di mana laki-laki dan perempuan Yahudi mengadakan ritual bersama, sebuah langkah yang ditentang oleh Yahudi Ultra-Ortodoks.
Bagi umat Muslim, al-Aqsa merupakan situs tersuci ketiga di dunia setelah Mekkah dan Madinah. Sementara orang Yahudi menyebut daerah itu sebagai "Gunung Bait Suci", mengklaimnya sebagai situs dua kuil Yahudi di zaman kuno.
Israel menduduki Yerusalem Timur - di mana al-Aqsa berada - selama Perang Arab-Israel 1967, sebelum akhirnya menguasai seluruh wilayah kota, sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.
Pada akhir tahun 2000, kunjungan politikus kontroversial Israel Ariel Sharonke ke al-Aqsa memicu pemberontakan pendudukan Israel selama puluhan tahun, yang telah menewaskan ribuan orang Palestina.