Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia meminta negara-negara peserta Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) mengedepankan fleksibilitas dalam perundingan untuk mewujudkan Mega Free Trade Agreement antara sepuluh anggota ASEAN dan enam negara mitra.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan perundingan RCEP sudah berjalan lima tahun, namun perkembangannya sangat lambat. Masing-masing negara mengedepankan ambisi pada hampir seluruh bidang perundingan.
“Kita dorong agar perundingan ini selesai secara substansial pada akhir 2018,” ujar Menteri Enggar dalam siarannya, Senin.
Menteri Enggar saat ini berada di Tokyo mengikuti pertemuan intersesi ke-5 perundingan RCEP. Menurut Menteri Enggar, hambatan lain adalah beberapa negara mitra ASEAN tidak mempunyai hubungan perdagangan bebas dengan sesama negara mitra ASEAN, misalnya antara India dan Tiongkok. Hal ini membuat kesepakatan sulit tercapai.
Para menteri ini berkumpul untuk membahas penyelesaian berbagai isu yang belum bisa diselesaikan oleh Komite Perundingan RCEP, khususnya isu-isu yang sensitif secara politis.
Negara-negara ASEAN, menurut Menteri Enggar, mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan waktu yang lebih lama bagi negara mitra, khususnya yang belum memiliki perjanjian FTA dalam memenuhi kesepakatan menuju kesepakatan yang bersifat “common consession”.
Menteri Perdagangan juga menyampaikan review atas revisi ketiga tariff offer dari seluruh peserta RCEP dalam upaya mencapai tariff commitment yang secara komersial menguntungkan peserta RCEP.
Menurut dia, ada sejumlah peningkatan dalam penawaran ketiga yang ditunjukkan oleh negara peserta, khususnya terkait tawaran yang ditargetkan eliminasi. Namun pada saat yang sama juga masih terdapat disparitas jumlah penawaran kepada negara peserta RCEP, khususnya negara mitra dengan sesamanya.
Menurut Menteri Enggar, penyelesaian RCEP tahun ini sangat penting di tengah maraknya proteksionisme negara-negara besar dunia yang melahirkan tindakan perang dagang (trade war). Negara-negara ini mengkhawatirkan dampak trade diversion, yaitu pengalihan ekspor dari negara yang sedang perang dagang ke negara lain.
“Intinya negara-negara ASEAN berkomitmen mencapai kesepakatan yang menguntungkan semua anggotanya,” ujar dia.
Direktur Jenderal Perundingan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengatakan RCEP memiliki banyak manfaat bagi Indonesia. Melalui kerja sama dengan nilai pasar hampir separuh Pendapatan Domestik dunia ini, industri dan perekonomian Indonesia akan terhubung ke dalam rantai pasokan kawasan sehingga meningkat daya saingnya.
RCEP juga akan mendorong peningkatan akses pasar bagi UMKM. “RCEP mengatur fasilitasi perdagangan yang mengakomodir UKM agar dapat pula memasarkannya ke 15 negara peserta lainnya,” tambah Iman.
RCEP adalah blok perdagangan bebas yang digagas oleh anggota ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Myanmar, Kamboja, Laos, Brunei Darusalam) dan enam negara mitra (India, China, Australia, Korea Selatan, Jepang dan Selandia Baru).
Kolaborasi 16 anggota blok perdagangan ini akan mencatatkan kontribusi Gross Domestik Product (GDP) lebih dari USD20 triliun atau setara 30 persen GDP dunia. Total populasi peserta RCEP mencapai 3 miliar jiwa, atau hampir separuh populasi global.
Total perdagangan negara peserta mencapai USD10 triliun, atau lebih dari 30 persen perdagangan global. Sedangkan Foreign Direct Investment (FDI) yang mengalir ke 16 negara anggota sebesar USD366 miliar atau 30 persen FDI global.
news_share_descriptionsubscription_contact

