Pizaro Gozali İdrus
04 April 2018•Update: 05 April 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Indonesia akan memberikan bantuan medis kepada pengungsi Rohingya dan masyarakat lokal di Sittwe, Myanmar, akhir bulan ini.
“Kami akan mendukung peningkatan kapasitas dokter dan pelayanan kesehatan di luar rumah sakit,” ujar Ketua Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) Muhamamd Ali Yusuf kepada Anadolu Agency di Jakarta, Rabu.
Ali mengatakan AKIM akan menyediakan mobil klinik untuk membantu etnis Rohingya yang tersebar di sejumlah kamp.
Para pengungsi, sebut Ali, nantinya akan mendapatkan pengobatan dan pelayanan kesehatan.
“Totalnya ada 120.000 pengungsi. Hidup mereka di kamp itu berat karena aksesnya sangat terbatas. Ketergantungan bantuan sangat tinggi,” kata Ali.
Ali menjelaskan timnya kini sudah berada di Myanmar untuk menjalin kerja sama dengan LSM lokal.
“Kami menggandeng mitra lokal karena terkait akses dan problem bahasa para pengungsi,” kata Ali.
Namun demikian, Ali mengatakan masih kesulitan menjangkau wilayah utara Maungdaw sebagai lokasi konflik mutakhir.
“Belum bisa masuk ke sana karena harus pakai perahu dan biayanya sangat mahal,” jelas Ali.
--Persiapan melawan badai ekstrim
AKIM kini juga tengah mempersiapkan bantuan bagi pengungsi Rohingya di kamp-kamp di Bangladesh untuk menghadapi cuaca ekstrim.
AKIM, sebut Ali, sudah mulai mendistribusikan selimut, pakaian tebal, dan matras untuk menjaga kondisi pengungsi.
“Kami juga mempersiapkan air bersih dan layak,” kata Ali.
Ali mengakui bahwa sarana kakus menjadi persoalan besar di kamp pengungsi saat ini.
Banyak sarana pompa air di kamp pengungsian berdekatan dengan kakus. Hal ini membuat air bersih terkontaminasi dengan tinja.
“Ini terjadi karena lokasi kamp pengungsi sempit. Jadi bagaimana mau sehat? Padahal kan standar jarak antara keduanya minimal 10 meter,” terang Ali.
Untuk menyiasati hal ini, AKIM meluncurkan program pemurnian air agar air tidak terkontaminasi tinja.
“Kita bangun laterine yang jaraknya cukup aman dengan sumber airnya,” jelas Ali.
AKIM sendiri merupakan gabungan 11 lembaga sosial di Indonesia yang diresmikan pemerintah untuk memberikan bantuan kemanusiaan terkait krisis Myanmar antara etnis Rohingnya dan kelompok Budha.
Saat meresmikan AKIM pada 31 Agustus 2017 lalu, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan ini adalah bentuk komitmen Indonesia untuk membangun Rakhine, mendorong pembangunan yang inklusif, dan penguatan demokratisasi.