Rhany Chairunissa Rufinaldo
07 Oktober 2018•Update: 08 Oktober 2018
Kasim Ileri
WASHINGTON
Tuduhan pembunuhan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul telah memicu reaksi dari Amerika Serikat.
Wartawan dan kolumnis reguler di Washington Post itu telah hilang sejak dia memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.
Sebuah laporan Reuters pada Sabtu mengatakan bahwa Khashoggi terbunuh di dalam gedung konsulat setelah ditahan selama beberapa hari. Jurnalis dan pihak berwenang di AS telah berbicara menentang tindakan Arab Saudi.
Khashoggi dikenal kritis terhadap kebijakan domestik dan luar negeri Saudi.
Editor halaman editorial Washington Post yang juga rekan kerja Khashoggi, Fred Hiatt, mengatakan bahwa jika itu memang terjadi, pembunuhan itu adalah "tindakan yang mengerikan dan sangat tak terduga".
Senator AS dan anggota Komite Hubungan Luar Negeri Chris Murphy mencuit di akun Twitter-nya bahwa jika benar, pembunuhan tersebut akan melambangkan "pemutusan mendasar" dalam hubungan AS dan Arab Saudi.
Murphy sebelumnya menuntut pemerintah Arab Saudi untuk "memberikan jawaban" tentang keberadaan Khashoggi.
Polisi Turki yang menyelidiki kasus itu mengatakan dalam sebuah pernyataan kemarin bahwa 15 orang Saudi, termasuk beberapa pejabat, tiba di Istanbul dengan dua pesawat dan mengunjungi konsulat sementara Khashoggi berada di dalam.
Departemen kepolisian Turki di Istanbul telah menyelidiki arus masuk dan keluar di Konsulat Saudi sejak saat itu, tunangan Khashoggi mengatakan bahwa dia memasuki gedung itu.
Kantor Jaksa Penuntut Umum di Istanbul memulai penyelidikan pada hari kejadian, sementara konsulat juga mengatakan di Twitter bahwa mereka berkoordinasi dengan pihak berwenang Turki untuk menangani masalah ini.