Merve Aydogan
ANKARA
Presiden Turki menegaskan komitmen negaranya terhadap stabilitas dan keamanan Afghanistan pada Kamis dan mengatakan Ankara dapat mengadakan pembicaraan dengan pemerintah.
"Kami akan bertemu dengan pemerintah yang dibentuk oleh Taliban jika perlu, dan membahas agenda bersama kami," kata Recep Tayyip Erdogan setelah pertemuan Kabinet selama lima jam di kompleks presiden di Ibu Kota Ankara.
Taliban menguasai ibu kota Afghanistan, Kabul, pada Minggu, memaksa Presiden Ashraf Ghani dan pejabat tinggi pemerintah lainnya untuk meninggalkan negara itu.
Mencatat bahwa ada 5.000 warga Turki yang tinggal di Afghanistan karena berbagai alasan, Erdogan mengatakan 500 warga Turki bersama dengan 83 warga negara asing sudah dibawa ke Turki atas permintaan mereka.
"Kami akan memindahkan warga negara kami yang masih mengantre untuk kepulangan, yang jumlahnya di bawah 300, sesegera mungkin," ujar dia.
Erdogan membantah klaim oposisi yang mengatakan bahwa Turki menampung 1,5 juta pengungsi Afghanistan.
"Turki tidak memiliki tugas, tanggung jawab, atau kewajiban untuk menjadi gudang pengungsi Eropa," tegas dia.
Mengenai migran gelap, Erdogan mengatakan setidaknya 235.000 warga Afghanistan telah dikirim kembali ke negara asalnya.
Dia juga mengatakan bahwa hampir 450.000 warga Suriah di Turki telah kembali ke daerah yang telah dibebaskan dari teroris.
Turki telah menjadi titik transit utama bagi pencari suaka yang ingin menyeberang ke Eropa untuk memulai kehidupan baru, terutama mereka yang melarikan diri dari perang dan penganiayaan.
Turki, yang telah menampung 4 juta pengungsi - lebih banyak dari negara mana pun di dunia - mengambil langkah-langkah keamanan baru di dalam dan di perbatasan untuk mencegah masuknya pendatang baru.
Tes Covid-19 wajib bagi mereka yang tidak divaksinasi
Beralih ke kampanye vaksinasi Covid-19 yang sedang berlangsung di Turki, Erdogan mengatakan guru dan personel sekolah akan diminta untuk menunjukkan hasil tes PCR negatif setidaknya dua kali seminggu ketika pembelajaran tatap muka dimulai pada 6 September.
“Kami akan mewajibkan mahasiswa dan staf universitas kami yang tidak divaksinasi untuk menjalani tes PCR secara teratur,” ungkap dia.
Acara publik seperti konser juga akan membutuhkan hasil tes PCR negatif untuk mencegah penyebaran virus.
“Perjalanan pesawat dan bus antar-kota juga akan memerlukan tes PCR,” imbuh dia.
Presiden Turki menekankan bahwa vaksinasi Covid-19 tidak dan tidak akan wajib di negara itu, tetapi dia mendesak semua yang memenuhi syarat untuk segera divaksin.
Mengenai kebakaran hutan yang dimulai setelah 28 Juli, presiden mengatakan 72.000 deka are lahan yang ditanami, hampir 1.000 deka are rumah kaca, 2.590 ton produk yang disimpan dan 2.600 bangunan pertanian rusak.
Dia menambahkan bahwa sekitar 150.000 hektar lahan terkena dampak kebakaran di 54 Provinsi Turki pada 2021.
Erdogan juga menegaskan bahwa hutan yang terbakar akan dihidupkan kembali dan tidak akan digunakan untuk tujuan lain, termasuk pertanian dan pariwisata.
Turki mengalami ratusan kebakaran hutan di provinsi selatan dan barat daya sejak 28 Juli.
Dengan upaya intensif dan berdedikasi, semua kobaran api dapat dikendalikan hanya dalam waktu dua minggu.
Menurut data resmi, setidaknya delapan kematian dilaporkan dalam insiden tersebut.
news_share_descriptionsubscription_contact
