03 September 2017•Update: 03 September 2017
ISTANBUL
Dalam ucapan selamat liburannya kepada rekan Kazakh, Senegal dan Nigeria, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, pada Sabtu, menekankan pentingnya kerja sama untuk menyelesaikan krisis kemanusiaaan di Myanmar, menurut sumber presiden.
Sumber yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan Presiden Recep Tayyip Erdogan memberikan salam Idul Adha dalam panggilan telepon kepada Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev, Presiden Senegal Macky Sall, dan Presiden Nigeria Muhammadu Buhari.
Awal pekan ini, Erdogan juga mendiskusikan krisis Myanmar lewat telepon dengan pemimpin Pakistan, Iran, Mauritania, Qatar, Arab Saudi, Kuwait, Azerbaijan, dan Bangladesh.
Nigeria and Turkey
Berbicara dengan Buhari, Erdogan berharap pemimpin Nigeria itu memperoleh kesehatan terbaik setelah ia dirawat di London untuk suatu penyakit baru-baru ini.
“Pemimpin Turki menyampaikan salam Idul Adha kepada Presiden Buhari. Kedua pemimpin saling mengharapkan kesehatan dan kesuksesan yang baik, juga salam dan harapan untuk warga negara sahabat masing-masing,” menurut juru bicara Buhari Garba Shehu.
“Kedua pemimpin juga mendiskusikan dengan panjan glebar, KTT ke-9 yang akan datang, Organisasi Kerja sama Ekonomi, pada akhir Oktober di Istanmbul,” tambahnya.
Dikatakan Erdogan juga mendorong partisipasi Buhari.
Kekerasan terhadap Rohingya
Kekerasan terjadi di Rakhine, Myanmar, sejak 25 Agustus lalu, ketika pasukan keamanan negara tersebut melancarkan operasi terhadap komunitas Muslim Rohingya. Aksi ini memicu pengungsi baru ke Bangladesh, meski negara tersebut menutup perbatasannya untuk pengungsi.
Laporan media menyebutkan bahwa pasukan keamanan Myanmar telah menggunakan kekuatan tidak proporsional, menggusur ribuan warga Rohingya dan menghancurkan rumah mereka dengan mortir dan senapan mesin.
Di wilayah ini terjadi ketegangan antara umat Budha dan Muslim sejak 2012.
Sebuah aksi kekerasan diluncurkan Oktober lalu di Mingdao, di mana mayoritasnya Rohingnya, menyebabkan PBB menerbitkan laporan pelanggaran HAM dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh aparat keamanan.
PBB mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal dan penghilangan paksa. Perwakilan Rohingya mengatakan sekitar 500 orang telah dibunuh dalam tindakan keras tersebut.