Turki, Dunia

Erdogan kritik usulan senator AS terkait Siprus

Erdogan mengatakan pernyataan senator Partai Demokrat AS Robert Menendez untuk mencabut embargo senjata pada pemerintahan Siprus Yunani dapat menimbulkan ancaman bagi hubungan Turki-AS

Pizaro Gozali İdrus   | 15.07.2019
Erdogan kritik usulan senator AS terkait Siprus Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto file - Anadolu Agency)

Istanbul

Cigdem Alyanak

ISTANBUL

Presiden Turki pada Minggu mengkritik senator terkemuka AS yang disebutnya sebagai "musuh Turki".

Erdogan mengatakan pernyataan senator Partai Demokrat AS Robert Menendez untuk mencabut embargo senjata pada pemerintahan Siprus Yunani dapat menimbulkan ancaman bagi hubungan Turki-AS.

Erdogan mengatakan kepada wartawan bahwa dia percaya Presiden Donald Trump "tidak akan jatuh dalam skema ini."

"Pendekatan seorang senator AS dalam masalah ini seharusnya tidak pernah merusak hubungan Turki-AS," tambah dia.

Siprus telah terpecah antara Siprus Turki di utara dan Siprus Yunani di selatan sejak 1974 ketika Turki mengirim pasukan ke pulau itu sebagai tanggapan atas kudeta militer Yunani.

Beberapa dekade sejak itu ada sejumlah upaya untuk menyelesaikan perselisihan, tetapi semuanya gagal.

Upaya terbaru, diikuti oleh negara-negara penjamin - Turki, Yunani, dan Inggris - berakhir pada 2017 di Swiss.

Pengiriman sistem pertahanan rudal S-400 Rusia

Beralih ke pengiriman awal ke sistem pertahanan rudal S-400 Rusia ke Turki, Erdogan menegaskan Turki tidak sedang mempersiapkan perang dengan membeli peralatan militer tersebut, melainkan "berusaha untuk menjamin perdamaian dan keamanan nasionalnya."

Erdogan menambahkan penempatan rudal itu akan selesai pada April 2020.

Washington berasumsi bahwa eksistensi S-400 akan membahayakan peran Turki dalam program jet tempur F-35, dan bahkan bisa memicu sanksi kongres.

Para pejabat AS menyarankan agar Turki membeli sistem rudal Patriot AS ketimbang S-400 dari Rusia, karena sistem itu tidak sesuai dengan sistem NATO.

Sementara itu, Turki, menekankan bahwa S-400 tidak akan diintegrasikan ke dalam sistem NATO dan tidak akan menimbulkan ancaman bagi aliansi.

Erdogan juga mengatakan Turki bukan negara yang masuk dalam sanksi Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) dan sanksi bagi Turki pada proyek jet tempur F-35 adalah "keluar dari pertanyaan."

CAATSA disahkan pada tahun 2017 guna melawan Iran, Korea Utara, dan Rusia dalam upaya memerangi pengaruh negara-negara itu di seluruh dunia.

Erdogan mengatakan kesepakatan S-400 adalah "perjanjian paling penting" dalam sejarah Turki, karena alih-alih menjadikan Turki sebagai pasar penjualan senjata, kesepakatan itu membuat Turki menjadi negara mitra dalam produksi.

Karena upayanya untuk membeli sistem pertahanan udara dari AS tak kunjung berhasil, Ankara memutuskan membeli sistem S-400 pada 2017.

Sanksi Iran

Ditanya tentang sanksi AS terhadap Iran, Erdogan menggarisbawahi bahwa wilayah tersebut lelah dengan perang dan Turki tidak menyetujui sanksi tersebut.

Erdogan menambahkan wilayah tersebut harus dapat berdiri sendiri di atas dua kaki.

Ketegangan antara AS dan Iran meningkat sejak Mei 2018, ketika Washington secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir 2015,

Sejak itu, pemerintahan Trump memulai kampanye diplomatik dan ekonomi untuk menekan Iran agar bisa membawa negara itu kembali ke perundingan untuk membahas soal program nuklir dan kegiatan lain yang dianggap tidak stabil.

Sebagai bagian dari kampanyenya, AS memberlakukan kembali sanksi terhadap ekspor minyak mentah Iran, yang telah menghancurkan perekonomian negara itu.

Teheran menolak segala bentuk negosiasi dengan Washington sampai negara itu mencabut sanksinya.

Masalah Suriah

Erdogan juga mengatakan pertemuan selama dua hari akan dilakukan di Astana pada 1 Agustus untuk membahas konflik Suriah.

Selanjutnya Ankara akan menjadi tuan rumah KTT tiga negara dengan partisipasi Rusia dan Iran.

Erdogan juga menambahkan bahwa KTT lain juga akan diadakan di Turki.

Pertemuan tersebut akan membahas situasi di Idlib dan wilayah lainnya di Suriah.

Fokus pertemuan akan membahas situasi keamanan, proses transisi, komisi konstitusi, dan pemukiman kembali warga Suriah.

Turki, Rusia, dan Iran adalah negara penjamin yang menjadi perantara gencatan senjata di Suriah pada Desember 2016.

Ketiga negara lalu melakukan pembicaraan damai Suriah di Astana, yang berjalan sejalan dengan pembicaraan damai Jenewa.

Suriah baru saja mulai keluar dari konflik yang dimulai pada 2011 ketika rezim Assad menindak demonstran dengan tingkat kekerasan yang tidak terkira.

Ratusan ribu warga sipil terbunuh atau terlantar akibat konflik, terutama oleh serangan udara rezim yang menargetkan daerah-daerah yang dikuasai oposisi.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın