Muhammad Abdullah Azzam
12 November 2019•Update: 12 November 2019
Sibel Uğurlu
ANKARA
Presiden Turki pada Selasa menyatakan perang melawan Organisasi Teroris Fetullah (FETO) akan menjadi agenda utama perbincangan selama pertemuannya dengan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Washington.
"Turki telah mengambil banyak langkah sejauh ini untuk mengembalikan pemimpin teroris di Pennsylvania [Fetullah Gulen] ke negara kami," kata Recep Tayyip Erdogan kepada wartawan di Bandara Esenboga sebelum berangkat ke Washington untuk melakukan pertemuan resmi dengan Donald Trump.
Kami bertekad untuk menuntut pertanggungjawaban kepada para pengkudeta di hadapan pengadilan, tutur Presiden Erdogan.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di Amerika Serikat Fetullah Gulen melancarkan kudeta yang berhasil digagalkan pada 15 Juli 2016, menyebabkan 251 orang tewas dan hampir 2.200 lainnya terluka.
Ankara juga menuduh FETO berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi institusi Turki, khususnya militer, polisi dan pengadilan.
Selama pertemuan di AS, Turki juga akan membuktikan dengan dokumen-dokumen bahwa hubungan AS dengan pemimpin teroris YPG, Ferhat Abdi Sahin adalah sebuah "kesalahan", ungkap Erdogan.
"Turki ingin memulai periode baru dengan AS soal masalah-masalah yang berkaitan dengan keamanan kedua negara," tambah dia.
Kunjungan presiden Turki itu dilakukan setelah kesepakatan 17 Oktober dengan AS di mana teroris YPG/PKK akan ditarik dari wilayah Operasi Mata Air Perdamaian di Suriah utara.
Turkey has complained that the YPG/PKK terrorists -- sometimes allies of the U.S., ostensibly to fight ISIS/Daesh -- did not leave the area, and continue to launch attacks.
Turki meluncurkan Operasi Mata Air Perdamaian pada 9 Oktober untuk mengamankan perbatasannya dengan menghilangkan unsur-unsur teroris guna memastikan kembalinya pengungsi Suriah dengan aman dan integritas wilayah Suriah.
Ankara menginginkan agar teroris YPG/PKK menarik diri dari wilayah tersebut sehingga zona aman dapat dibentuk untuk membuka jalan bagi pengembalian 2 juta pengungsi secara aman.
Pada 22 Oktober 2019, Erdogan dan Putin mencapai kesepakatan bahwa teroris PKK/YPG akan mundur 30 kilometer (19 mil) dari perbatasan Turki dengan Suriah utara dalam waktu 150 jam dan pasukan keamanan dari Turki dan Rusia akan melakukan patroli bersama di sana.
Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak dan bayi.