07 Juli 2017•Update: 07 Juli 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Arab Saudi meminta beberapa poin kepada Qatar agar embargo mereka terhadap negara tersebut bisa dicabut. Namun, permintaan Saudi tidak akan mau dipenuhi Qatar dan justru dalam jangka panjang bisa menjadi blunder tersendiri yang tidak disadari oleh pihak Saudi.
Direktur Eksekutif Madani Center for Development and International Studies (MACDIS) Arya Sandhiyudha melihat tiga belas tuntutan Saudi atas Qatar antara lain menutup operasional kantor media Al Jazeera, memutus hubungan dengan Ikhwanul Muslimin, memutus hubungan diplomatic dengan Iran, serta meminta Qatar agar mengusir militer Turki dari wilayahnya sangat tidak rasional untuk dipenuhi.
“Terkait permintaan agar Turki angkat kaki dari Qatar, akan berbahaya bagi Saudi karena Turki adalah US secondary bandwagon state aatu negara kedua yang diandalkan NATO di Timur Tengah akan selalu selaras dengan kebijakan strategis termasuk keamanan di Timur Tengah dengan AS,” ujar doktor politik internasional dari Turki ini.
Permintaan Saudi agar Turki meninggalkan Qatar berarti mengabaikan peran Turki untuk menjaga keamanan dan stabilitas kawasan atas nama NATO karena Turki representatif di NATO di Timur Tengah.
“Saya tidak tahu apakah Saudi sudah mempertimbangkan ini. AS sendiri tidak bulat untuk mendukung sikap Saudi. Karena mereka melihat nilai strategis Qatar bagi kepentingannya.”
Persyaratan yang diminta Saudi merupakan persyaratan untuk mempertahankan kebijakan mereka atas Qatar dan bukan untuk normalisasi hubungan dengan Qatar, sehingga wajar kalau daftar permintaan Saudi tidak bisa dipenuhi Qatar karena bersifat mengintervensi kebijakan dalam negeri Qatar serta mengabaikan nilai-nilai demokratis termasuk kebebasan jurnalistik yang ada di Qatar.
“Permintaan lainnya agar Qatar memutus hubungan dengan Iran bisa semakin memperkuat permintaan dan posisi Iran untuk internasionalisasi Tanah Suci Makkah dan Madinah. Ini bisa terjadi karena hubungan Iran atas Qatar sangat kuat. Sehingga langkah Saudi bisa menjadi blunder karena menjadikan Saudi berkonflik dengan banyak negara di kawasan dan banyak pihak,” terangnya.