Muhammad Abdullah Azzam
17 Juli 2018•Update: 18 Juli 2018
Leven Tok, Selen Temizer
DARAA/ANKARA
Rezim Bashar al-Assad mulai melakukan serangan-serangan ke Dataran Tinggi Golan untuk mengambil alih wilayah Suriah di perbatasan Israel, menurut informasi yang diperoleh koresponden Anadolu Agency di Daraa.
Sebelumnya militer rezim Assad telah berhasil mengambil sebagian besar wilayah Daraa, kota di barat daya Suriah yang berbatasan dengan Yordania.
Sementara Quneitra hingga kini masih di bawah kendali kelompok oposisi. Wilayah Quneitra sendiri berbatasan dengan wilayah pendudukan Israel di Dataran Tinggi Golan.
Rezim Assad dan Iran sebagai pendukungnya berhasil mengambil alih Daraa dalam operasi militer yang dimulai 20 Juni lalu. Rezim kini bertujuan untuk masuk ke Quneitra melalui Daraa, wilayah di perbatasan Israel.
Kemarin malam terjadi bentrokan bersenjata antara pasukan militer rezim dan pasukan oposisi dari al-Harra dan Masharah yang berada di wilayah antara Daraa dan Quneitra.
Rezim dan para pendukungnya memulai operasi pada 20 Juni lalu dengan bantuan angkatan udara dari Rusia. Pada 6 Juli, kesepakatan dengan pihak oposisi telah dicapai dengan Rusia dan militer oposisi menandatangani perjanjian gencatan senjata permanen yang mencakup wilayah-wilayah selatan Suriah.
Dalam perjanjian tersebut disebutkan juga bahwa Rusia dan pasukan rezim akan mempermudah warga yang ingin bermigrasi dari Daraa menuju wilayah-wilayah di utara Suriah.
Pasca gencatan senjata, pasukan rezim dan para pendukungnya berhasil mengambil alih 85 persen wilayah di perbatasan Yordania. Konvoi pertama yang membawa para kelompok oposisi dan warga sipil telah mengevakuasi 700 orang ke Idlib kemarin Minggu.
Kota-kota di wiliayah Daraa dan Quneitra di barat daya Suriah merupakan bagian dari empat titik zona de-eskalasi yang telah ditetapkan oleh negara-negara penjamin, Turki, Iran dan Rusia pada KTT Astana, Mei 2017 lalu.
Rusia, Amerika Serikat dan Yordania mengambil alih Daraa dan Quneitra dengan perjanjian khusus dua bulan kemudian. Setelah itu Amerika Serikat memotong pengiriman bantuan kepada para oposisinya di wilayah tersebut.