Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
14 Januari 2020•Update: 15 Januari 2020
Beyza Binnur Donmez
ANKARA
Amerika Serikat mengumumkan sanksi baru terhadap sejumlah pejabat Venezuela setelah legislator oposisi Luis Parra disumpah sebagai presiden baru Majelis Nasional Venezuela.
"Hari ini, Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan AS menunjuk tujuh pejabat pemerintah Venezuela yang, atas nama mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, memimpin upaya untuk secara tidak sah mengambil alih kendali Majelis Nasional dan mencegah Presiden sementara Juan Guaido dan wakil-wakil lain berpartisipasi dalam pemilihan kepemimpinan majelis yang diperlukan secara konstitusional,"kata Departemen Keuangan dalam sebuah pernyataan, Senin.
Luis Eduardo Parra Rivero, Jose Gregorio Noriega Figueroa, Franklyn Leonardo Duarte, Jose Dionisio Brito Rodriguez, Conrado Antonio Perez Linares, Adolfo Ramon Superlano, dan Negal Manuel Morales Llovera dimasukkan dalam daftar Warga negara yang ditunjuk secara khusus (SDN).
Departemen Keuangan menuduh Parra dan delegasi lain melibatkan pemungutan suara tidak sah tanpa kuorum sementara pasukan keamanan yang setia kepada Presiden Venezuela Nicolas Maduro secara fisik mencegah mayoritas delegasi Majelis Nasional memasuki gedung untuk pemungutan suara.
"Sanksi bagi para pejabat yang ditunjuk dapat dihapus jika mereka berpihak pada rakyat Venezuela dan Juan Guaido sebagai pemimpin sah mereka," kata Menteri Keuangan Steven Mnuchin.
Setelah masa jabatan Guaido berakhir, Parra terpilih sebagai presiden Majelis Nasional melalui pemungutan suara di parlemen pada 5 Januari, dengan dukungan para pendukung Maduro.
Sementara itu, petugas keamanan mencegah Guaido dan pendukungnya memasuki gedung parlemen, tempat pemilihan berlangsung.
Kemudian, para diplomat oposisi mengadakan pemilihan terpisah, di mana mereka memilih Guaido untuk memimpin Majelis Nasional dan menyerbu Majelis pada 7 Januari untuk menyatakan klaim yang lebih resmi.
Proklamasi Guaido mendapat dukungan langsung dari AS seperti yang terjadi pada awal 2019, ketika dia terlibat dalam perebutan kekuasaan dengan Maduro dan mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara.