Rhany Chairunissa Rufinaldo
26 September 2019•Update: 26 September 2019
SM Najmus Sakib
DHAKA, Bangladesh
Amerika Serikat memuji ketanggapan Bangladesh dalam menghadapi krisis Rohingya dan menjadi teladan bagi dunia.
Duta Besar AS untuk Dhaka Earl Miller pada Rabu menyampaikan penghargaan kepada ratusan ribu warga Bangladesh yang membuka hati mereka untuk menampung para pengungsi.
“Penting bagi pemerintah Bangladesh yang membuka perbatasannya untuk menyediakan tempat yang aman [untuk Rohingya],” kata Miller dalam video yang disiarkan langsung di media sosial.
Dalam pidatonya, dia juga menyoroti pentingnya komunitas donor internasional dan LSM yang bekerja sama dengan pemerintah Bangladesh untuk mengatasi krisis yang sedang berlangsung.
Miller juga menyampaikan rasa hormat dan penghargaan besar atas kemurahan hati, kasih sayang dan kemanusiaan pemerintah dan rakyat Bangladesh.
"Respons Anda terhadap krisis ini telah menjadi teladan bagi dunia," ujar dia.
Pernyataan Miller disampaikan tak lama setelah Departemen Luar Negeri AS mengumumkan dana segar senilai USD127 juta untuk bantuan kemanusiaan bagi Rohingya dan masyarakat tuan rumah di Bangladesh.
Tambahan dana itu membuat total bantuan AS menjadi lebih dari USD669 juta sejak pecahnya kekerasan pada Agustus 2017.
"Mayoritas dana itu, lebih dari USD553 juta, dihabiskan untuk program-program di Bangladesh," kata Miller.
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh tentara Myanmar.
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.