Astudestra Ajengrastrı
04 Juli 2018•Update: 04 Juli 2018
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Inggris harus menaikkan belanja pertahanan mereka, tukas seorang pejabat tinggi AS dalam sebuah surat kepada Menteri Pertahanan Inggris Gavin Williamson, yang menimbulkan kontroversi setelah bocor ke publik.
"Sebuah negara besar seperti Inggris, dengan kepentingan dan komitmen di seluruh dunia, akan membutuhkan level belanja pertahanan yang lebih besar ketimbang yang kita harapkan dari sekutu dengan kepentingan-kepentingan regional," kata Menteri Pertahanan James Mattis dalam surat yang dikirimkan kepada Williamson pada 12 Juni, tiga hari setelah kunjungannya ke London.
"Tanpa adanya persenjataan militer yang mencukupi, perdamaian dan stabilitas dunia akan berada di ujung tanduk," ucap Mattis.
Beberapa organisasi media Inggris menduga bahwa isi surat ini dibocorkan oleh Williamson sendiri, yang menginginkan negara tersebut menaikkan alokasi dana untuk belanja sektor pertahanan.
Surat ini juga disebut-sebut oleh media lokal sebagai bentuk intervensi atas kebijakan domestik Inggris.
Dalam surat tersebut, Mattis juga mengatakan kekhawatirannya atas kekuatan militer Inggris yang sedang berisiko mengalami erosi. Dia juga membandingkan Inggris dengan Prancis, yang sebelumnya berkomitmen untuk mengalokasikan lebih banyak uang untuk belanja sektor pertahanan.
"Sebagai aktor-aktor global, Prancis dan AS menyimpulkan ini saat yang tepat untuk menaikkan secara signifikan investasi kami di pertahanan. Sekutu-sekutu lain juga mengikuti," ungkap Mattis.
"Merupakan kepentingan kedua negara supaya Inggris tetap menjadi partner pilihan AS," imbuh dia.
"Bukan hak saya untuk mengatakan kepada Anda bagaimana cara memprioritaskan anggaran belanja domestik negara Anda, namun saya berharap Inggris segera bisa membagikan cetak biru yang jelas dan sudah didanai sehingga saya bisa merencanakan masa depan kita bersama dari posisi yang kuat dan percaya diri," kata dia.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris berkata "Inggris tetap merupakan negara dengan anggaran pertahanan terbesar di Eropa dan kami telah menyatakan akan tetap melampaui target belanja NATO sebesar 2 persen".
"Menteri pertahanan memutuskan untuk memodernisasi program pertahanan guna memperkuat angkatan bersenjata kami di tengah-tengah ancaman yang semakin intens," dia menambahkan.
Trump pada Januari 2017 melontarkan kritik keras kepada NATO dalam wawancara dengan harian Jerman, Bild, mengatakan bahwa organisasi tersebut "kuno".
Dia berkata NATO gagal menyikapi terorisme dan ancaman-ancaman lain yang kini terjadi.
"NATO memiliki beberapa masalah. Nomor satu, mereka sudah kuno, karena dibentuk sudah bertahun-tahun yang lalu. Nomor dua -- negara-negara anggotanya tidak membayar sebanyak yang seharusnya mereka bayarkan," ucapnya kala itu.
Target belanja pertahanan sebesar 2 persen dari Produk Domestik Bruto pada 2024 telah disepakati oleh semua negara anggota NATO -- target yang hingga kini belum bisa tercapai.