Muhammad Abdullah Azzam
12 November 2020•Update: 13 November 2020
Hasan Esen
LONDON
Rusia mungkin telah mendapatkan kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik antara Azerbaijan dan Armenia atas Karabakh tetapi "Turki telah memenangkan perang", ungkap berita analisis dari sebuah harian Inggris.
"Dukungan politik Turki yang kuat, pesawat tanpa awak Turki yang mutakhir, dan konsultasi dari militer Turki yang berpengalaman mengubah keseimbangan perang ke arah Azerbaijan," kata sebuah artikel dari The Telegraph.
Dukungan dari Turki juga "memungkinkan Azerbaijan untuk menggulingkan posisi Armenia di tempat yang dianggap sebagai benteng pegunungan Nagorno-Karabakh yang hampir tak tertembus."
Artikel berjudul - Pemenang terbesar dari perang Azerbaijan-Armenia adalah Turki - mengatakan setelah pasukan Azerbaijan merebut kota Shusha, kota terbesar kedua di zona konflik, "jelas bahwa Azerbaijan telah mencetak keberhasilan militer yang besar."
Artikel tersebut menyatakan bahwa Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan tidak punya banyak pilihan selain menyetujui “kesepakatan damai yang memalukan” yang mengamankan dominasi Azerbaijan dan memaksa tentaranya meninggalkan daerah tersebut.
Pertempuran berdarah berlanjut antara Azerbaijan dan Armenia sejak gencatan senjata tahun 1994 di wilayah tersebut, tetapi keberhasilan Azerbaijan dalam enam minggu terakhir "mengesankan".
“Perbedaannya adalah Turki dan negara itu sekarang akan menuai keuntungan politik,” tutur harian itu.
Turki memiliki kekuatan "di negara tetangga Suriah dan Libya dan sekarang memiliki pengaruh besar di Kaukasus Selatan," lanjut artikel itu.
“Ankara juga telah mendorong pemerintah Asia Tengah, dengan koneksi ke-Turki-an dan Islamnya, untuk mendukung Azerbaijan. Pujian terhadap Turki akan meningkat."
Harian itu juga menggambarkan Armenia dan Pashinyan sebagai "pecundang besar".
"Pashinyan kehilangan kendali atas wilayah itu hanya dua tahun setelah dia didorong ke dalam kekuasaan dalam revolusi mungkin akan memotong karir politiknya," imbuh harian itu.
Rusia butuh dukungan Turki
Menyatakan Rusia memiliki "ruang terbatas untuk bermanuver di Kaukasus Selatan", artikel tersebut mengatakan bahwa Rusia "membutuhkan dukungan Turki, bahkan di belakang untuk memaksakan stabilitas."
“Kremlin mencoba dua kali untuk memberlakukan gencatan senjata tetapi keduanya gagal. Hanya sekarang, ketika perang hampir berakhir dan beberapa ribu orang telah terbunuh, Kremlin bisa kembali mendapatkan kesepakatan damai."
"Harganya adalah menjadikan 2.000 tentara Rusia sebagai penjaga perdamaian," tutur The Telegraph.
Artikel Telegraph juga mengingatkan "gencatan senjata yang dinegosiasikan oleh AS juga cepat gagal setelah tinta mengering di dalam dokumen."
Barat telah kehilangan arti penting dari perang di bekas negara terpencil Soviet ini setelah terganggu oleh virus korona, serangan teroris, dan pemilihan presiden di AS.
Hubungan antara Azerbaijan dan Armenia atas Karabakh tegang sejak 1991, tetapi bentrokan baru terjadi pada 27 September.
Armenia berulang kali menyerang warga sipil dan pasukan Azerbaijan selama lebih dari 40 hari, bahkan melanggar tiga perjanjian gencatan senjata kemanusiaan.
Selain kota dan desa lain, pembebasan Azerbaijan atas kota strategis Shusha pada Minggu telah mengisyaratkan bahwa kemenangan negara itu sudah dekat.