Muhammad Abdullah Azzam
07 November 2020•Update: 07 November 2020
Jeyhun Aliyev
ANKARA
Pasukan Armenia pada Jumat terus menargetkan pemukiman sipil dan tentara Azerbaijan di berbagai arah daerah depan dengan peluru mortir, howitzer, dan senjata ringan, kata Kementerian Pertahanan Azerbaijan.
Sejak pagi hari, militer Armenia menyerang kota Tartar, serta desa Gazyan dan Husanli di wilayah ini, kata pernyataan kementerian Azerbaijan.
Desa Tapgaragoyunlu di wilayah Goranboy juga dibom oleh pasukan Armenia tadi malam, lanjut pernyataan itu.
"Satuan Angkatan Darat Azerbaijan melakukan pembalasan untuk menekan titik tembak musuh," ujar Kemhan negara itu.
Menyoroti wilayah ini secara geografis jauh dari "tempat pertempuran", Hikmet Hajiyev, asisten presiden Azerbaijan, mengatakan di Twitter bahwa Armenia mencoba untuk "memperluas wilayah operasi militernya" dengan provokasi semacam itu.
Kementerian tersebut mengatakan bahwa operasi tempur terus berlanjut, terutama di daerah Aghdere, Aghdam, Khojavend, dan Gubadli.
"Musuh terpaksa mundur dengan mengalami kehilangan personel dan kendaraan militer di beberapa daerah di garis depan," tukas Hajiyev.
Memperhatikan bahwa operasi tempur sedang berlangsung, kementerian Azerbaijan juga mengatakan bahwa situasi operasional "di bawah kendali" pasukannya.
Sejak bentrokan meletus pada 27 September, Armenia berulang kali menyerang warga sipil dan pasukan Azerbaijan, bahkan melanggar tiga perjanjian gencatan senjata kemanusiaan sejak 10 Oktober.
Hingga saat ini, setidaknya 91 warga sipil, termasuk 11 anak-anak dan 27 perempuan, tewas akibat serangan Armenia.
Menurut Kepala Kantor Kejaksaan Azerbaijan, sekitar 400 orang juga terluka dalam serangan itu, termasuk sedikitnya 14 bayi, 36 anak-anak, dan 101 perempuan.
Selain itu, sekitar 2.442 rumah, 92 gedung apartemen, dan 428 gedung umum juga rusak dan tidak bisa digunakan lagi.
Hubungan antara dua negara bekas Uni Soviet itu tegang sejak 1991 ketika militer Armenia menduduki Upper Karabakh, atau Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.
Empat resolusi Dewan Keamanan PBB dan dua resolusi dari Majelis Umum PBB serta organisasi internasional menuntut "penarikan pasukan pendudukan segera, lengkap dan tanpa syarat" dari wilayah Azerbaijan yang diduduki.
Sekitar 20 persen wilayah Azerbaijan - termasuk Nagorno-Karabakh dan tujuh wilayah yang berdekatan - berada di bawah pendudukan Armenia secara ilegal selama hampir tiga dekade.
Gencatan senjata, bagaimanapun, disetujui pada 1994.
Kekuatan dunia termasuk Rusia, Prancis, dan Amerika Serikat telah menyerukan gencatan senjata yang berkelanjutan.
Turki, sementara itu, mendukung hak Baku untuk membela diri dan menuntut penarikan pasukan pendudukan Armenia.