ISTANBUL
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dinilai sebagai langkah strategis yang tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi juga berpotensi mengguncang ekonomi global melalui tekanan pada pasokan energi dan jalur perdagangan internasional.
Dosen Ekonomi Universitas Ilmu Sosial Ankara Doç. Dr. Erhan Akkas dalam analisisnya menyebut langkah Iran tersebut sebagai intervensi geoekonomi yang dapat mengubah dinamika konflik menjadi tekanan ekonomi berskala global.
Menurut Akkas, penutupan Selat Hormuz tidak hanya mempersempit pasokan energi global dan mendorong lonjakan harga minyak, tetapi juga memicu gangguan rantai pasok internasional yang berdampak pada perdagangan dan produksi dunia.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman. Sekitar 20 juta barel minyak per hari atau sekitar 25 persen perdagangan minyak laut global melewati jalur tersebut.
Selain itu, sekitar 20 persen ekspor gas alam cair global dari negara-negara seperti Qatar dan Uni Emirat Arab juga melalui Selat Hormuz, menjadikannya titik krusial dalam sistem energi global.
Akkas menjelaskan bahwa gangguan di jalur ini telah mendorong harga minyak melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel, mendekati level krisis 2008.
Kenaikan harga energi tersebut berpotensi memicu inflasi global karena meningkatnya biaya transportasi, produksi industri, hingga sektor pangan.
Negara-negara yang bergantung pada impor energi seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan India disebut akan menjadi pihak yang paling terdampak oleh situasi ini.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dinilai dapat mendorong negara-negara tersebut mengambil kebijakan yang meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Akkas juga menilai langkah Iran menutup Selat Hormuz berpotensi menggagalkan upaya Amerika Serikat dan Israel untuk mengisolasi Iran di tingkat internasional.
Di sisi lain, dampak krisis energi juga merambat ke pasar keuangan, termasuk peningkatan minat investor terhadap aset aman seperti emas.
Namun, ia mencatat bahwa dampak utama konflik lebih banyak tercermin pada pasar energi dibandingkan aset lainnya.
Selain energi, sektor industri global juga terdampak, terutama industri padat energi seperti petrokimia, baja, aluminium, dan semen yang menghadapi kenaikan biaya produksi.
Gangguan juga terjadi pada sektor logistik dan perdagangan global. Lebih dari 80 persen perdagangan dunia yang bergantung pada jalur laut terdampak oleh meningkatnya risiko keamanan di kawasan.
Akkas menambahkan bahwa selain Selat Hormuz, jalur penting lain seperti Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez juga berpotensi terdampak, yang dapat memperparah gangguan rantai pasok global.
Ia menilai, jika konflik berkepanjangan, penutupan Selat Hormuz dapat menjadi alat tekanan geoekonomi yang semakin kuat bagi Iran.
Kesimpulannya, krisis di Selat Hormuz menunjukkan tingginya kerentanan ekonomi global terhadap gangguan pasokan energi dan jalur perdagangan, serta menegaskan pentingnya diversifikasi rantai pasok dan keamanan energi di masa depan.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
