Dunia

Anadolu dokumentasikan kondisi hancur jembatan Eufrat di Deir ez-Zor, timur Suriah

Selama 13 tahun perang saudara, baik rezim maupun pasukan koalisi pimpinan AS menghancurkan jembatan-jembatan penting yang memungkinkan penduduk setempat menyeberang dari kota ke daerah pedesaan

26.12.2024 - Update : 30.12.2024
Anadolu dokumentasikan kondisi hancur jembatan Eufrat di Deir ez-Zor, timur Suriah Jembatan dan jalur utama yang menghubungkan tepi timur dan barat Sungai Efrat di Deir ez-Zor, kota yang hancur akibat serangan rezim, di Deir Ez-or, Suriah pada 24 Desember 2024

DEIR EZ-ZOR, Suriah

Anadolu mengambil gambar pembongkaran jembatan dan penyeberangan utama yang membentang di Sungai Efrat di Deir ez-Zor, sebuah kota di Suriah timur yang hancur akibat serangan rezim yang gencar selama perang saudara selama 13 tahun di negara itu. 

Akibat pemboman terpisah oleh pasukan yang setia kepada rezim Bashar Assad yang kini telah digulingkan dan koalisi anti-Daesh/ISIS pimpinan AS, jembatan, penyeberangan, dan banyak bangunan di Deir ez-Zor telah hancur total.

Tingkat kerusakan di kota yang masih dipenuhi reruntuhan itu terungkap setelah pasukan anti-rezim menguasai kota tersebut menyusul runtuhnya rezim Assad awal bulan ini. 

Dengan hancurnya jembatan yang menghubungkan tepi timur dan barat Sungai Efrat, termasuk jembatan gantung bersejarah Deir ez-Zor, penduduk setempat harus menggunakan feri dan perahu untuk menyeberangi sungai yang memisahkan pusat kota dengan daerah pedesaan di timur laut.   

Jalur kehidupan terputus

Wasim al-Ahmad, penduduk Deir ez-Zor, menjelaskan kepada Anadolu bahwa jembatan gantung bersejarah, yang juga dikenal sebagai Jembatan Al-Muallaq, merupakan penghubung penting antara kota tersebut dan pinggiran pedesaannya. 

Dulunya memungkinkan pejalan kaki menyeberang dengan mudah, sekarang tidak dapat digunakan sama sekali setelah menjadi sasaran serangan pasukan koalisi. 

"Jalur kehidupan Deir ez-Zor telah terputus. Bagian kota ini benar-benar terisolasi. Hampir mustahil untuk menyeberang ke sisi lain," kata al-Ahmad.

Dia menambahkan bahwa beberapa jembatan lain, yang dulunya digunakan setiap hari oleh penduduk, dibom oleh pasukan rezim.

"Dengan demikian, kedua sisi Deir ez-Zor telah sepenuhnya terisolasi satu sama lain. Peristiwa ini terjadi bertahun-tahun lalu, tetapi dampaknya masih terasa."  

Akses transportasi terganggu

Munir Sa'ir al-Maydan, yang tinggal di pedesaan provinsi Deir ez-Zor, menyoroti masalah yang ditimbulkan oleh rusaknya jembatan tersebut bagi penduduk setempat.

Menurut Maydan, transportasi sangat terpukul karena tidak mungkin lagi menyeberang dari satu sisi Sungai Efrat ke sisi lainnya dalam hari yang sama.

Dia mengatakan sebelumnya warga bisa menyeberang dengan mudah menggunakan jalan kaki atau sepeda motor, bahkan tanpa perlu menggunakan mobil.

"Sekarang, karena jembatannya rusak, kami tidak bisa menyeberang sama sekali. Kami hanya bisa menyeberang menggunakan feri. Ini masalah serius bagi kami, warga setempat," kata dia.

Menyerukan tindakan segera untuk membangun kembali jembatan, ia menyatakan: "Kita memerlukan solusi jangka panjang karena masalah ini memengaruhi kehidupan kita sehari-hari."

Bashar Assad, pemimpin Suriah selama hampir 25 tahun, melarikan diri ke Rusia setelah kelompok anti-rezim menguasai Damaskus pada 8 Desember, mengakhiri rezim Partai Baath, yang telah berkuasa sejak 1963.

Pengambilalihan itu terjadi setelah pejuang Hayat Tahrir al-Sham merebut kota-kota penting dalam serangan kilat yang berlangsung kurang dari dua minggu. Pejuang anti-rezim mengklaim menguasai pusat kota Dier ez-Zor pada 11 Desember.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın