Dandy Koswaraputra
04 Januari 2019•Update: 04 Januari 2019
Yusuf Ozcan
PARIS
Salah satu tokoh utama gerakan Rompi Kuning Perancis akan menghadapi persidangan pada 15 Februari karena mengorganisir "protes tidak sah", kantor kejaksaan Paris mengatakan Kamis.
Eric Drouet - seorang sopir truk berusia 33 tahun - ditahan oleh polisi Rabu malam karena mengorganisir demonstrasi di pusat kota Paris tanpa izin, kata dia.
Setelah pembebasannya, Kamis, Drouet mengatakan kepada wartawan bahwa penangkapannya bermotif politik.
Dia mengatakan dia tidak bisa mengerti mengapa pejabat tinggi hadir pada interogasinya, dan menegaskan demonstrasi akan terus berlanjut.
Menteri Ekonomi Prancis Bruno Le Maire mendukung penangkapan Drouet dan mengatakan kepada radio Inter Prancis Kamis bahwa mereka harus menghormati aturan hukum.
"Adalah normal bahwa ketika Anda melanggar hukum republik, Anda menghadapi konsekuensinya," katanya.
Pengacara Drouet, Kheops Lara, menyebut penangkapannya benar-benar tidak adil dan sewenang-wenang.
Jean-Luc Melenchon, pemimpin partai sayap kiri Prancis Unbowed, juga mengkritik penahanan Drouet.
"Penyalahgunaan kekuasaan. Polisi yang dipolitisasi menargetkan dan melecehkan para pemimpin gerakan Rompi Kuning," tulisnya di Twitter.
Sekitar 50 aktivis berkumpul Rabu malam di Concorde Square dekat jalan Champs-Elysees untuk memperingati 10 orang yang tewas selama berbulan-bulan protes di Prancis dan juga yang terluka.
Tidak lama kemudian, polisi menahan Drouet bersama dengan sekelompok aktivis dengan alasan demonstrasi "tidak sah".
Drouet juga ditahan selama demonstrasi Rompi Kuning pada 22 Desember.
Di Prancis, hukuman untuk mengorganisir demonstrasi tanpa izin resmi hingga enam bulan penjara dan denda USD 8.545.
Protes Rompi Kuning
Protes Yellow Vest, yang dimulai sebagai reaksi atas kenaikan pajak bahan bakar kontroversial yang diperkenalkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan berkembang menjadi pemberontakan terhadapnya, terus berlanjut meskipun ada permintaan dari pemerintah untuk menghentikannya.
Sejak 17 November, ribuan pemrotes yang mengenakan rompi kuning cerah - dijuluki Rompi Kuning - telah berkumpul di kota-kota besar Prancis, termasuk ibukota Paris, untuk memprotes kenaikan pajak dan memburuknya situasi ekonomi di Perancis.
Pada pertengahan Desember, di bawah tekanan dari minggu protes, Macron mengumumkan kenaikan upah minimum dan juga menunda kenaikan pajak bahan bakar.
Setidaknya 10 orang telah terbunuh dan lebih dari seribu lainnya terluka dalam protes itu, sementara lebih dari 4.500 telah ditahan.