05 Juli 2017•Update: 05 Juli 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Sebanyak 83 Warga Negara Indonesia (WNI) diburu pihak keamanan karena diduga mempunyai kaitan dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Mereka bagian dari 234 orang dari berbagai negara yang masuk daftar pencariaan orang (DPO) pihak keamanan karena terkait ISIS maupun kelompok teror lain.
Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Ronnie Sompie mengatakan pihaknya diminta kepolisian untuk melacak orang-orang tersebut apabila melewati Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI). Menurutnya, dari 234 buronan, sebanyak 91 di antaranya terkait jaringan ISIS. Sementara, 143 orang terkait jaringan teror lain.
“Yang terkait ISIS, 83 adalah WNI. Sementara yang lainnya adalah warga negara Aljazair satu orang, Kuwait dua orang, Arab Saudi dua orang, Suriah satu orang, dan Turki dua orang,"ujarnya saat di kantor Ditjen Imigrasi, Jakarta, Rabu (5/7).
Pada jaringan teroris bukan ISIS, menurut Sompie ada 18 WNI yang diduga terlibat. Sedangkan, lainnya adalah Aljazair 19 orang, Mesir 10 orang, Pakistan 10 orang, dan Irak 6 orang, sisanya dari negara lainnya.
Pemerintah, menurut Sompie juga mengawasi WNI yang dideportasi oleh pemerintah Turki dan Suriah karena keterkaitannya dengan aktivitas ISIS. Diketahui sejak dua tahun terakhir puluhan WNI yang bergabung dengan ISIS mulai berdatangan, kepulangan mereka membuat pemerintah semakin mewaspadai meningkatnya ancaman teror.
Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) mencatat, lebih dari 900 WNI pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti jumlah mereka yang masih bertahan di Suriah, maupun yang sudah pulang ke Indonesia.
Dirjen Imigrasi, kata Sompie, kini berusaha mencegah WNI yang akan bepergian ke Suriah atau negara-negara yang sedang berkonflik untuk menjadi Foreign Terrorist Fighter (FTF). Antara lain dengan melakukan pengawasan saat penerbitan paspor, pemeriksaan imigrasi maupun bekerja sama dengan Polri maupun BNPT untuk mengidentifikasi calon-calon pasukan ISIS.
Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian Taufik Andrie memprediksi gelombang kepulangan WNI simpatisan ISIS makin dekat. Ini karena, kekuatan ISIS makin terdesak oleh pasukan pemerintah Suriah, sehingga mereka harus segera menyingkir.
“Anggota ISIS asal Indonesia cenderung tidak bisa ditugaskan ke daerah lain, mereka punya kendala bahasa. Bahasa Arab dan Inggris mereka lemah, sehingga kemungkinan paling besar adalah pulang ke Indonesia,”ujarnya.
Kepulangan mereka, menurut Taufik harus diwaspadai karena para eks combatan biasanya mengidap post-traumatic stress disorder (PTSD), yaitu kondisi kejiwaan setelah mengalami kejadian traumatik.
“Mereka biasanya ingin perang terus. Selain itu, perlu juga diwaspadai amanah atau perintah dari pimpinan mereka tentang apa yang harus dilakukan di Indonesia.”