Dihadapkan pada kekerasan aparat keamanan usai kudeta militer terhadap mantan Presiden Mohamed Morsi pada tahun 2013, banyak orang di Mesir harus meninggalkan negaranya.
Mereka meninggalkan negaranya karena dianggap memprovokasi kekerasan dan berencana menggulingkan rezim penguasa yang didukung militer. Banyak kalangan menilai ini hanyalah tuduhan palsu.
"Saya ditangkap dua hari setelah kudeta atas tuduhan palsu menghasut kekerasan," ucap pemimpin Ikhwanul Muslimin Helmi Gazza kepada Anadolu Agency.
"Tuduhan itu tidak berdasar karena tidak ada bukti satupun yang diajukan jaksa terhadap saya," kata Gazzar, mantan anggota parlemen.
Menghabiskan waktu tiga bulan dalam satu sel, pemimpin Ikhwan dibebaskan dengan jaminan. Ia lalu lari dari Mesir ke Sudan, tempat tinggalnya sekarang.
Mantan anggota parlemen, Ayman Nour, mengatakan harus lari dari Mesir menyusul kudeta militer terhadap Mursi.
"Ini adalah pertama kalinya [saya] dipaksa meninggalkan Mesir," kata Nour, yang kini bermukim di Istanbul, Turki.
Nour mengatakan, dia sebelumnya ditahan karena "mengungkapkan kebenaran" dan menentang ketidakadilan.
"Saya akan kembali ke Mesir setelah kebebasan berbicara dipulihkan," katanya. "Saya yakin Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang-orang yang membayar harga kebebasan dengan darah mereka."
Mantan wakil menteri kesehatan Abdul Nasir Sakr, 61, memberikan keterangan serupa mengenai keadaan yang memaksanya kabur dari Mesir.
Berbicara kepada Anadolu Agency, Sakr mengatakan ditahan pasukan keamanan Mesir pada tahun 2013 setelah menyulut aksi duduk di alun-alun Rabaa al-Adawiya dan Nahda Giza, Kairo
"Saya dibebaskan hampir setahun kemudian, tapi saya harus melarikan diri ke Sudan setelah didakwa [dengan kekerasan]," katanya.
Ratusan pemrotes tewas saat pasukan keamanan Mesir menembaki mereka untuk mengakhiri aksi.
Hari paling berdarah
Mahmoud Abdulhamid al-Anani, 20, seorang jurnalis dan blogger, ditangkap pada akhir 2013.
"Saya diganjar hukuman 6 tahun penjara atas tuduhan berencana menggulingkan pemerintah," kata Anani.
Dia ingat, rumahnya digerebek pasukan keamanan dan seorang saudara laki-lakinya dipenjara 6 bulan.
"Saya berhasil melarikan diri ke Turki pada 2014," kata Anani, yang yakin "revolusi akan berhasil" di Mesir.
Mantan koresponden Al Jazeera Baher Mohamed, 34, diganjar hukuman 10 tahun penjara karena diduga menyebarkan berita palsu dan memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin - yang dicekal pemerintah pada tahun 2013.
"Waktu berbulan-bulan yang saya habiskan di penjara telah mengajarkan saya betapa mereka [pihak berwenang] membenci kebebasan pers," kata Mohamed.
"Saya telah melihat banyak wartawan yang tak bersalah mendekam di jeruji besi," katanya.
Masa hukuman Mohamed dikurangi menjadi tiga tahun setelah naik banding. Ia lalu dibebaskan atas persetujuan presiden.
Mohammad Sultan, yang sekarang tinggal di A.S., teringat pertumpahan darah di Mesir usai demonstrasi pro Mursi di Kairo.
"Selama dua tahun, saya mencoba menghapus gambaran berdarah, potongan tubuh yang terpencar dan orang-orang yang terluka dari pikiran saya. Namun, usaha itu sia-sia," katanya.
"Saya berusaha keras melupakan bau kematian."
Sultan, yang diekstradisi ke A.S. setelah meninggalkan kewarganegaraannya di Mesir, teringat bahwa seorang penembak jitu Mesir telah menembakinya saat dia sedang menyiarkan secara langsung aksi Rabaa.
"Dia hampir membunuhku," katanya.
Dia menggambarkan pembubaran aksi duduk di Rabaa sebagai "hari paling berdarah dalam sejarah Mesir modern".
* Ali Murat Alhas berkontribusi untuk laporan ini dari Ankara