Politik, Dunia

3 polisi terluka dalam demonstrasi di Kolombia

Ribuan orang turun ke jalan melawan segala sesuatu mulai dari ketimpangan dan korupsi hingga kekerasan terhadap para pemimpin hak asasi manusia

Ekip   | 22.01.2020
3 polisi terluka dalam demonstrasi di Kolombia Pasukan keamanan mengintervensi aksi protes dalam Pemogokan Nasional di Bogota, Kolombia, pada 21 Januari 2020. Ribuan orang turun ke jalan di Bogota, Kolombia untuk berpartisipasi dalam Pemogokan Nasional. (Lokman İlhan - Anadolu Agency)

Colombia

Laura Gamba

BOGOTA, Kolombia

Unjuk rasa di seluruh Kolombia berlanjut pada Selasa mengakibatkan tiga polisi dan satu demonstran terluka serta 13 bus dan enam stasiun bus dirusak, kata pihak berwenang.

Serikat buruh, siswa, guru, kelompok masyarakat adat dan organisasi feminis pertama kali mulai melakukan pemogokan pada bulan November, menyalurkan gelombang ketidakpuasan atas kurangnya kesempatan pendidikan, lambatnya implementasi kesepakatan damai tahun 2016 antara pemerintah dan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia sayap kiri ( FARC), pembunuhan para pemimpin sipil dan ketidaksetaraan yang berakar dalam masyarakat Kolombia. Para pengunjuk rasa berdiri dengan tuntutan yang sama dalam demonstrasi terbaru.

Pengunjuk rasa Luis Ramirez, seorang profesor di Universitas Nasional Kolombia, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa dia memiliki banyak alasan untuk berada di jalanan.

"Setelah 50 tahun perang, kita sekarang kita menghadapi ketidakadilan, skandal korupsi yang telah mengikis kepercayaan kita pada kelas politik dan pembunuhan para pemimpin sosial," kata dia.

Menurut Indepaz, sebuah LSM yang melakukan proyek-proyek jangka panjang dalam mengejar perdamaian di Kolombia, lebih dari 20 pemimpin sosial telah terbunuh selama hari-hari pertama tahun ini.

Walikota Bogota Claudia Lopez mendesak pengunjuk rasa untuk mengadakan aksi damai untuk menghindari intervensi oleh polisi anti huru-hara.

Namun protes berubah menjadi kekerasan ketika polisi bentrok dengan demonstran yang memblokir jalan.

Pengemudi Uber, yang akan keluar dari pekerjaannya setelah Pengawas Industri dan Perdagangan awal bulan ini memerintahkan perusahaan pengendara yang berbasis di AS untuk menutup operasinya di negara itu pada 1 Februari, juga bergabung dengan protes.

Fabian Gomez, yang telah menjadi pengemudi Uber selama tiga tahun, mengatakan lebih dari seribu pengemudi turut berdemonstrasi.

"Mereka mengambil sumber penghasilan saya dan pekerjaan alternatif yang memberi saya stabilitas," kata Gomez.

Meskipun Presiden Ivan Duque memulai dialog nasional dengan kelompok-kelompok yang berbeda, Komite Mogok Nasional bersikeras mengorganisir aksi unjuk rasa baru untuk menekan pemerintah agar memenuhi tuntutan mereka, termasuk melaksanakan kesepakatan damai dan pembubaran pasukan polisi anti huru-hara setelah demonstran muda Dilan Cruz meninggal ketika dia terkena tembakan yang ditembakkan oleh polisi anti huru-hara, memicu kemarahan di seluruh negeri.

Pada Selasa pagi, Duque mengatakan dia menolak segala bentuk kekerasan terhadap warga dan anggota pasukan publik.

Pemerintah telah mengundang demonstran untuk bergabung dalam dialog nasional untuk membahas kebutuhan mereka, tetapi ada skeptisisme di antara penyelenggara tentang kesediaannya untuk memenuhi tuntutan mereka.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın