Muhammad Abdullah Azzam
19 November 2019•Update: 20 November 2019
Alaattin Dogru
DAKAR, Senegal
Setidaknya 24 tentara Mali tewas dalam serangan teroris di wilayah Gao, bagian utara negara tersebut.
Setidaknya 29 tentara lainnya terluka dalam serangan itu, saat tentara Mali dan Niger melakukan operasi bersama di perbatasan terhadap para gerilyawan, ungkap Angkatan Bersenjata Mali (FAMA) dalam sebuah pernyataan.
FAMA melaporkan sedikitnya 17 teroris tewas dalam serangan balasan dan ratusan teroris lainnya ditangkap dalam penyerbuan tentara Mali itu.
Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Mali, salah satu negara termiskin di dunia, menderita karena kehadiran sejumlah kelompok teror, di mana pasukan penjaga perdamaian Prancis, Mali dan PBB melancarkan operasi kontraterorisme.
Ketegangan di Mali dimulai pada 2012 setelah kudeta yang gagal dan pemberontakan Touareg yang pada akhirnya memungkinkan kelompok-kelompok militan yang terkait al-Qaeda untuk mengambil alih bagian utara negara itu.
Sejak 2012 silam bagian utara dan tengah negara tersebut telah menjadi wilayah konflik separatis dan sasaran serangan teroris.
Perselisihan politik dan masyarakat terus memicu ketegangan di Mali utara, sehingga merusak implementasi perjanjian perdamaian.
Setidaknya 160 orang tewas, 65 terluka dan banyak rumah dibakar dalam insiden serangan terhadap penduduk Fulani di desa Ogossagou oleh orang-orang bersenjata dengan mengenakan pakaian pemburu Dozo pada 23 Maret lalu.
Operasi Barkhane yang dilancarkan pasukan Prancis dengan empat ribu pasukan bersama pasukan penjaga perdamaian Misi Stabilisasi Terintegrasi Multidimensi PBB di Mali (MINUSMA) dengan jumlah 15 ribu pasukan hingga kini masih belum berhasil mengatasi masalah keamanan di negara tersebut.