Diyar Guldogan
13 September 2022•Update: 20 September 2022
ANKARA
Direktorat Komunikasi Turki pada Senin merilis sebuah buku baru, berjudul “Kontribusi Turki untuk Stabilitas: Diplomasi Multidimensi untuk Perdamaian”.
Buku yang diterbitkan dalam bahasa Turki dan Inggris ini merinci langkah-langkah Turki untuk mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina, dan memastikan stabilitas regional.
Buku ini terdiri dari empat bagian: "Kepemimpinan Global dalam Membangun Dunia yang Damai", "Sikap Turki anti-Perang", "Menjaga Saluran Dialog Terbuka", "Diplomasi Kemanusiaan dan Kerjasama Saling Menguntungkan."
Di bagian pertama buku ini, dijelaskan lalu lintas diplomasi intens Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan Ukraina dan Rusia, dan organisasi internasional seperti NATO dan Uni Eropa.
Pada bagian kedua, ada pembahasan tentang upaya Turki untuk mencegah perang, inisiatif diplomatik yang dibuat untuk integritas teritorial Ukraina dan seruan untuk gencatan senjata juga dijelaskan secara rinci.
Bagian ketiga buku menggambarkan peran Turki dalam menjaga saluran dialog tetap terbuka dalam krisis Ukraina-Rusia, yang juga telah menarik perhatian pada posisi Turki sebagai faktor penyeimbang antara kedua negara.
Bagian terakhir buku ini berfokus pada pemahaman Turki tentang diplomasi yang menempatkan rakyat sebagai fokus dan kepekaannya terhadap perlindungan warga sipil. Peran utama negara dalam memastikan keamanan di Laut Hitam dan membuka koridor gandum juga dijelaskan dalam buku tersebut.
Dalam bagian pendahuluan buku tersebut, Erdogan mengatakan Turki melakukan upaya intens di bidang diplomasi untuk pembentukan perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
"Setiap orang harus bertindak dengan rasa tanggung jawab yang sama untuk mencegah tragedi kemanusiaan baru, terutama hilangnya nyawa dan migrasi secara paksa," tambah dia.
Erdogan mengungkapkan NATO telah menjalankan peran "sangat penting" dalam keamanan dan stabilitas sejak pendiriannya dan NATO juga bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah dalam arsitektur keamanan global "tanpa penundaan.
Presiden Turki juga menyerukan solidaritas penuh di antara negara-negara anggota NATO, baik dalam aliansi maupun dalam hubungan bilateral.
“Kami memenuhi tanggung jawab kami sebagai sekutu yang dapat diandalkan dalam menghadapi tantangan yang dihadapi oleh aliansi NATO. Kami akan terus berkontribusi pada pembentukan perdamaian, kemakmuran, dan stabilitas global dalam kerangka kebijakan luar negeri dan misi kemanusiaan kami, seperti yang telah kami lakukan sejauh ini," tukas Erdogan.