23 Juni 2017•Update: 23 Juni 2017
Ahmet Sait Akcay and Cansu Dikme
ANKARA
Bulan suci Ramadan disambut umat Muslim di seluruh dunia, namun bagi mereka yang jauh dari tradisi dan kenyamanan di rumah, pengalaman itu bisa menjadi lebih sulit.
Bagi ribuan pelajar asal Afrika yang menempuh pendidikan di kota-kota di Turki seperti Ankara, Istanbul, Kayseri dan Izmir, terdapat beberapa perbedaan kecil dalam pengalaman bulan puasa di Turki.
"Ramadan di Turki berbeda dengan pengalaman di negara asal saya," kata Mayada Kamal Eldeen, 37, yang menjalani pendidikan S3 ilmu politik di Yildiz Technical University di Istanbul.
Mayada, yang sudah tinggal di Turki selama empat tahun, menambahkan: "Kami sangat merasakan bulan Ramadan di Sudan."
Meskipun kangen rumah, kebanyakan pelajar asing menikmati perbedaan-perbedaan tradisi yang mereka rasakan di Turki.
"Di negara asal saya semua orang berpuasa dan restoran pun tidak menyajikan makanan," kata Mayada kepada Anadolu Agency.
"Setiap keluarga dan anak-anak mereka berpuka puasa, bukan di rumah melainkan dengan tetangga di lingkungan sekitar. Jalanan dipenuhi warga yang datang untuk makan bersama.
"Tarawih pun diikuti banyak orang, mulai dari lelaki, perempuan, hingga anak-anak."
Kasim Mohammed, 26, mengamat sikap yang lebih santai mengenai berpuasa pada bulan Ramadan di Turki.
Puasa 17 jam
"Saya melihat di sini sangat berbeda," kata Kasim yang berasal dari Somalia dan belajar di Erciyes University di Kayseri.
"Di Turkey puasa merupakan keputusan masing-masing, anda masih bisa melihat orang merokok di jalan dan restoran pun masih dibuka, namun di Somalia mereka semua tutup," katanya.
Aboubakar Kudi Byango, 32, asal Uganda, kaget dengan lamanya waktu puasa di Turki.
"Di Uganda, kami puasa selama 13 jam namun disini menjadi 17 jam. Memang agak sulit," ujar mahasiswa S3 ekonomi itu.
Mahasiswi asal Chad, Khadidja Alhadji Ali, 27, yang menempuh jurusan hukum Islam di Istanbul, mengatakan ia terkesan dengan ritual buka puasa, atau iftar, di Turki.
"Beda sekali dengan pengalaman Ramadan saya di rumah," katanya kepada Anadolu Agency.
"Puasa 17 jam adalah hal yang baru bagi saya dan menit-menit sebelum iftar merupakan masa-masa yang manis seperti sebuah berkat."
Khadidja tertarik dengan kekayaan hidangan yang disajikan saat iftar di Turki, termasuk sup, nasi, pastry daging dan pide - seperti pizza a la Turki.
Sedangkan pelajar lainnya suka mengikuti berbagai kegiatan yang biasa diselenggarakan di bulan Ramadan serta ornamen-ornamen yang menghiasi jalanan umum.
"Dekorasi untuk bulan Ramadan ini mungkin hal yang paling tidak terlupakkan bagi saya," kata Aboubakar.
Konser dan festival
"Tepat sebelum bulan puasa, pemerintah kota bekerja siang dan malam untuk mempercantik setiap sudut kota. Bunga-bunga yang indah ditanam di beberapa lokasi strategi, hiasan lampu warna-warna digantungkan pada tiang-tiang listrik.
"Benar saya tidak pernah melihat hal seperti ini seumur hidup, cantik sekali."
Tradisi konser dan pertunjukkan umum, seperti wayang, diadakan di pusat kota. Beberapa wilayah pun menyelenggarakan hidangan iftar massal.
Yousouf Ibrahim Djalal, 22, mahasiswa teknik komputer di Erciyes, memuji "kesiapan" dan organisasi instansi umum dan lembaga amal pada bulan Ramadan.
Meskipun menghadapi berbagai perbedaan, kebanyakan pelajar Afrika menghargai keramahan yang mereka temukan di Turki.
Mahasiswa hubungan internasional Ramazani Hategekimana dari Rwanda, mengatakan: "Turki adalah negara Muslim. Jadi saya merasa seperti di rumah.
Maliki Moustapha, 28, dari Togo, mengatakan: "Kami selalu diundang oleh organisasi, keluarga Turki atau orang-orang lain untuk bersantap bersama dan acara khusus Ramadan lainnya. Itu membuat kami merasa nyaman."
Kasim juga berterima kasih untuk persahabatan dan kehangatan teman-temannya asal Turki. "Saya bisa diundang berbuka puasa dengan teman-teman atau keluarga mereka," katanya. "Di Somalia tidak terlalu umum untuk berhidang dengan orang yang tidak dikenal."
Di Istanbul, Mayada menikmati keramaian acara iftar yang diadakan di kota tersebut, dimana teman-teman dan sanak saudara berkumpul dan ngobrol, yang menanamkan rasa kekeluargaan.
By
ANKARA
"Saya belum pernah menemukan sikap itu di negara-negara lain dimana saya menempuh pendidikan, selain di Turki," ucapnya.