24 Juni 2017•Update: 11 Juli 2017
Sinan Uslu dan Enes Kaplan
SANLIURFA, Turkey
Militer Turki tidak akan membiarkan pendirian negara di bagian utara Suriah, kata Presiden Recep Tayyip Erdogan, Jumat.
Saat berbicara di Sanliurfa, provinsi bagian selatan Turki, Erdogan menegaskan adanya kemungkinan ancaman di dekat perbatasan negara itu dengan Suriah.
“Belakangan ini ada perkembangan yang negatif di Suriah. Jika hal ıtu menyebabkan ancaman terhadap perbatasan kita, dunia harus tahu bahwa kita akan bereaksi sama saat dengan apa yang kita lakukan dalam operasi bersandi Operation Euphrates Shield,” kata Erdogan.
Turki meluncurkan operasi tersebut pada akhir Agustus tahun lalu untuk membasmi munculnya kelompok militant Daesh di bagian utara Suriah. Operasi militer tersebut berakhir Maret lalu.
Dipimpin oleh para pejuang Tentara Pembebasan Suriah, operasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan keamanan, mendukung pasukan koalisi dan membasmı ancaman terror di sepanjang perbatasan Turki.
“Sayangnya, negara-negara yang menjadi partner strategis kita pada saat yang sama juga bersama para teroris,” kata Erdogan. “Kita mengatakan kepada mereka untuk melawan Daesh bersama. Bisakan kita bersama koalisi sembilan negara melawan Daesh? PYD, YPG, adalah kelompok-kelompok teroris. Sangat disayangkan mereka tetap berada di arah berlawanan.”
PYD adalah cabang dari PKK (Partai Pekerja Turki) di Suriah. Turki menetapkan PKK, yang berhaluan Marxist tersebut, sebagai organisasi terror di bawah dukungan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Namun, Amerika menganggap PKK/PYD justru sebagai aliansi strategis dalam melawan kelompok Daesh dan telah mempersenjatai kelompok tersebut meski Turki, sebagai koalisi Amerika di NATO, keberatan.