Budaya

Merajut hubungan budaya Turki, Indonesia lewat panahan berkuda

Ketua Federasi Pemanah Tradisional Karesi atau Karesi Atli Okçuluk datang ke Indonesia untuk mengajarkan furusiah, yakni cara berkuda sambil memanah yang paling tua dari era Kesultanan Seljuk

Nicky Aulia Widadio   | 11.02.2019
Merajut hubungan budaya Turki, Indonesia lewat panahan berkuda Seorang peserta memanah sambil berkuda saat latihan panahan berkuda tradisional Turki yang diselenggarakan Asosiasi Olahraga Panahan Kuda Indonesia di Padang, Indonesia pada 10 Februari 2019. ( Anton Raharjo - Anadolu Agency )

Sumatera Barat

Nicky Aulia Widadio dan Anton Raharjo

Padang

Hubungan Indonesia dan Turki terus menguat melalui berbagai macam kerja sama, termasuk kegiatan kebudayaan.

Baru-baru ini, seorang master berkuda dan memanah dari Turki, Ertan Erkekoğlu, mengunjungi kota Padang, Sumatra Barat, untuk melatih panahan berkuda bagi Perkumpulan Panahan Berkuda Indonesia (KPBI) dari seluruh Indonesia di kota itu.

Kegiatan pelatihan panahan berkuda tradisional khas era ‘Ottoman Empire’ itu diakhiri oleh sebuah turnamen memanah di atas kuda sejak pekan lalu dan akan berakhir hari ini.

Sebanyak 30 peserta dari berbagai daerah di seluruh Indonesia mengikuti turnamen tersebut, yaitu Aceh, Sumatera selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Lombok, dan tuan rumah Sumatera Bara.

Para peserta berlatih membidik sasaran panah dari atas kuda yang berlari dan mengikuti turnamen menggunakan busana daerahnya masing-masing.

Ketua Dewan Pengawas dan Pendiri KPBI Irvan Setiawan mengatakan ide dasar komunitasnya adalah menggiatkan seni memanah dari zaman kejayaan Islam.

Sejauh ini, terang Irvan, peninggalan seni panahan berkuda hanya ada di Turki.

“Turki menjadi kiblat masa keemasan Islam bagi kami,” kata Irvan.

“Karena artefaknya seni berkuda memanah masih ada,” terang Irvan.

Untuk itu, Irvan menghadirkan Ertan, 53, Ketua Federasi Pemanah Tradisional Karesi atau Karesi Atli Okçuluk untuk mengajarkan furusiah yakni cara berkuda sambil memanah yang paling tua dari era Kesultanan Seljuk.

Ertan adalah pria asal Karesi dari Kesultanan Seljuk. Dia dibesarkan dengan tradisi berkuda dan memanah.

Dia juga penggagas kompetisi memanah Golden Arrow di kota kelahirannya di Balikesir.

Indonesia adalah negara pertama yang dia kunjungi untuk mengajarkan panahan berkuda.

“Saya akan mengajarkan mereka menjadi tentara berkuda yang hebat seperti leluhur saya,” kata Ertan.

Ertan menilai banyak orang menguasai memanah tapi tidak memanah sambil berkuda.

Namun, Ertan menilai setelah tiga hari pelatihan ada perkembangan yang baik dari para peserta.

“Semoga para peserta bisa membagikan ilmu ini kepada yang lainnya,” kata Ertan.

Ertan mengakui Indonesia berpotensi mengembangkan furusiah karena antusiasme peserta terhadap olahraga ajaran Nabi Muhammad ini.

Menurut Irvan, pelatihan cara Seljuk lebih bersifat alamiah sebagaimana diajarkan kepada anak-anak mereka pada usia dini.

“Seni panahan berkuda yang diajarkan Ertan mudah dicerna karena penekanan aspek batin, spiritual, psikologi seperti percaya diri, fokus, pemahaman fisika dan logika,” kata Irvan.

Seorang peserta asal Klaten, Bambang Minarno, bercerita tentang adanya kesamaan istilah dan teknik memanah yang digunakan oleh pasukan Bulkiyo pimpinan tokoh pejuang kemerdekaan Pangeran Diponegoro.

Menurut Bambang, apa yang dia pelajari selama ini soal panahan sama persis dengan yang ada di Turki, baik istilah, pakaian, teknik, jenis alat busurnya.

Istilah itu seperti Teberi sebagai nama aliran memanah, Nabel anak panah, Kasan dan Siyah bagian dari busur istilah panah.

Bambang termasuk dalam tim KPBI yang berkunjung ke Turki dan pernah belajar di rumah Ertan.

Dia mengikuti lagi pelatihan ini karena menginginkan durasi yang lebih panjang.

Kedatangan Ertan adalah tindak lanjut kunjungan anggota KPBI lainnya ke Turki tahun lalu.

Mereka mencari berbagai macam ajaran memanah yang masih bisa dipelajari.

Sebelumnya, KPBI pernah mendatangkan pengajar dari Mameluk Archery Ankara.

Ketua penyelenggara Sunaryo menyampaikan Indonesia fokus kerja sama dengan Turki karena Ottoman adalah pemegang seni panahan tradisional Islam terakhir yang bisa dipelajari.

Ayas ,17, asal Yogyakarta keluar sebagai juara turnamen memanah sambil berkuda yang diadakan di akhir pelatihan.

Untuk memenangkan pertandingan, Ayas mengaku menerapkan apa yang diajarkan Ertan untuk tidak hanya memperkuat skill, tapi juga meluruskan niat dan banyak beribadah.

“Teknik dan skill gampang dipelajari. Yang susah adalah membersihkan hati,” kata Ayas yang mengaku mempelajari skill panahan berkuda sejak tiga tahun lalu di pondok pesantren.

Ini adalah kali kedua Ayas belajar dengan Ertan. Tahun lalu dia sempat belajar ke rumah Ertan di Turki.

“Saya lebih senang belajar dengan dia (Ertan) di sini (Indonesia) karena waktunya lebih panjang sampai satu pekan,” kata dia.

Indonesia masuk dalam keanggotaan World Ethno Sport Confederation yang didirikan putra Presiden Turki Bilal Erdogan.

Pada konferensi pertamanya di Turki, Ketua KPBI hadir dalam delegasi yang dipimpin oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Sejak 2017, KPBI sudah mengikuti pertandingan memanah Fatih Kupasi Cup untuk memperingati Hari Penaklukan Konstantinopel.

Pada 2018, Sabdurrahman asal Indonesia menjadi orang Asia pertama yang jadi juara 3 dalam kompetisi yang diikuti pemanah dari 50 negara.

KPBI berniat menjadikan seni panahan berkuda sebagai rekonstruksi sejarah yang bermanfaat untuk masa kini.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.