Jakarta Raya
Muhammad Latief
JAKARTA
Namanya Pardi, seorang bapak dua anak di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Tetangganya mengenal pria ini sebagai pengangguran, karena kerjanya hanya jalan-jalan, makan-makan dan bermain bersama istri serta anak-anaknya yang masih balita.
Namun ternyata kenyataannya tidak seperti yang terlihat, Pardi mempunyai pendapatan belasan juta rupiah tiap bulan.
“Pardi ini adalah sosok yang bisa memanfaatkan revolusi industri 4.0. Dia Youtuber yang punya puluhan ribu subscriber, pendapatan iklannya besar,” ujar Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri saat memberikan orasi pada Masa Orientasi Mahasiswa Baru Program Vokasi Universitas Indonesia (UI) di Depok, Jawa Barat, Rabu.
Channel Pardi di platform video sharing itu bernama “Kang Pardi Prabowo”, hingga Rabu sudah mengunggah 448 video dengan 37 ribu pelanggan.
Tema-tema video unggahannya sederhana, cerita tentang kehidupan di pedesaan. Sebagian besar videonya adalah ulasan wisata kuliner di sekitar tempat tinggalnya. Ada video ulasan warung makan prasmanan di pinggir jalan, bubur ayam di perempatan dekat rumahnya atau perjalanan wisata keluarganya.
Dialognya dengan pemilik warung alamiah, candaanya mengalir tanpa skenario, khas percakapan antara pembeli dan penjual. Isi dialognya tetap informatif, misalnya soal harga, lokasi, jenis atau nama makanan.
Pernah dia mengunggah tentang warung “Angkringan Lemu” yang dilihat hingga 116 ribu kali. Pardi sekeluarga menyantap berbagai makanan, mulai sate ayam, gorengan tempe, nasi, sate keong. Pardi memesan kopi panas.
Para pemilik warung senang saat didatangi Pardi. Mereka mendapatkan berkah dari banyaknya viewer chanel ini. Warung mereka makin terkenal dan didatangi banyak pembeli karena penasaran setelah melihat channel Kang Pardi.
Tiap videonya juga mendapat berderet komentar. Tidak hanya dari penonton di sekitar Ponorogo, tapi juga berbagai belahan dunia. Mereka biasanya sedang tinggal di luar negeri dan merasa terobati rindunya pada kampung setelah melihat video Pardi.
Menteri Hanif sendiri mengaku sering melihat channel ini. Dia melihat sosok Pardi sebagai pemuda yang mampu beradaptasi dengan perubahan, kemampuan yang harus dimiliki mahasiswa UI, kata Menteri Hanif.
"Untuk mengantisipasi perubahan zaman yang dipengaruhi perkembangan teknologi informasi, kita harus adaptif,” ujar dia.
“Pasalnya 65 persen pekerjaan baru yang akan muncul di masa depan tidak diketahui saat ini. Yang mampu bertahan hidup bukan yang paling kuat dan pintar tapi yang paling mampu merespons perubahan," lanjut Menteri Hanif.
Agar sukses di era teknologi informasi, menurut Menaker Hanif, mahasiswa harus memiliki karakter kuat, kreatif, dan inovatif.
“Jangan puas jika sudah menguasai satu keahlian karena saat ini karakter pekerjaan bisa cepat berubah. Kembangkan keahlian dengan kreativitas dan berinovasilah."
Menteri Hanif juga mengingatkan agar mahasiswa memiliki kompetensi di atas standar agar bisa memenangkan persaingan. Caranya, harus bekerja dan belajar di atas standar. Usahanya harus berada di atas rata-rata.
Sigit Pranowo Hadiwardoyo, Direktur Program Pendidikan Vokasi UI menambahkan Program Pendidikan Vokasi UI menjalankan kurikulum pendidikan dan pelatihan yang bekerja sama langsung dengan industri. Lulusan Vokasi UI juga dibekali dengan sertifikat profesi sehingga siap bersaing di dunia kerja.
Dia berharap, kisah Kang Pardi ini bisa menginspirasi mahasiswanya untuk mempunyai karakter positif, disiplin, bertanggung jawab, jujur, berjiwa pemimpin, dan budi pekerti luhur.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
