09 Juli 2017•Update: 27 Juli 2017
Megiza
JAKARTA
Untuk sebagian orang, sosok dan nama chef Sezai Zorlu mungkin baru familiar setelah menyaksikan program televisi pertarungan memasak chef-chef professional, Iron Chef. Namun, di kalangan duta besar-duta besar di Jakarta, para pemilik hotel bintang lima, hingga presiden Indonesia, nama tersebut ternyata sudah sangat dikenal sebagai chef terbaik dalam menyajikan makanan khas Turki.
Pria asal kota Iskenderun, Turki, ini memang sudah belasan tahun dipercaya sebagai chef andal di kalangan VIP negeri ini. Merintis karirnya di industri kuliner Indonesia sejak 1999 hingga kini, Chef Sezai dapat dibilang sudah berhasil mengharumkan nama negaranya di Indonesia.
Bagaimana tidak, dengan catatan pengalaman empat kali diminta khusus memasak untuk mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, tiga kali menyajikan menu spesial untuk Megawati Soekarnoputri, hingga memuaskan lidah Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud saat berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu, Chef Sezai tentu sudah sah untuk menempati posisi tertinggi di jajaran chef internasional yang ada di negeri ini.
Spesialisasinya dalam menyajikan Ottoman Cuisine membuat Chef Sezai selalu diincar orang-orang penting yang tinggal ataupun berkunjung ke Indonesia. Pria berusia 43 tahun ini pun mengaku memang berniat membawa kebudayaan Turki ke Indonesia melalui masakan yang dibuatnya.
“Karena pada dasarnya kultur Indonesia dengan Turki itu sama dan mempunyai sejarah kerjasama yang erat pada ratusan tahun yang lalu. Saya merasa dapat menyatukan kembali hubungan Indonesia dengan Turki yang dulu pernah ada, sekaligus mengenalkan lagi kebudayaan Turki melalui makanan,” kata Sezai.
Saat ini, Chef Sezai menyajikan menu-menu khas Turki di dua restoran miliknya. Pertama ada di Warung Turki, sebuah restoran yang menawarkan konsep street food Turki di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Sedangkan yang kedua adalah di Turkuaz, sebuah restoran formal dining yang menyajikan tak hanya original cuisine Turki, tapi juga Ottoman cuisine alias menu-menu dengan resep dari ratusan tahun lalu, semasa kesultanan Ottoman memimpin Turki.
“Di dunia ini tinggal empat hingga lima orang yang masih menyajikan Ottoman Cuisine. Bahkan, kalau Anda ke Turki saja belum tentu dapat menemukan restoran yang mempunyai menu khas Ottoman sebanyak yang saya punya di sini,” ungkap Sezai. Dengan menu spesial yang diusungnya itu, agaknya tidaklah berlebihan jika banyak orang kemudian melabeli Chef Sezai sebagai Turkish Food Ambassador di Indonesia.
Tolak negosiasi demi budaya asli Turki
Bekerja menjadi chef di Indonesia sudah dijalani oleh Sezai sejak 18 tahun silam. Dia datang ke Jakarta untuk bekerjasama dengan seorang teman yang ingin membuka restoran makanan Turki.
Namun, kerjasama antara Sezai dan partnernya akhirnya pecah kongsi. Perbedaan prinsip dalam mengusung budaya Turki pun menjadi ihwal. Sezai bercerita, kala itu dia diminta ‘curang’ dengan resep makanan yang selama ini dipegangnya.
“Saya membangun restoran itu bersama partner saya selama hampir 11 tahun, sampai akhirnya saya keluar dari sana karena diminta mencurangi resep makanan khas Turki. Saya merasa harus bisa mempertahankan kebudayaan saya,” ungkap Sezai.
Dia bercerita, hal yang membuatnya memutuskan untuk melepas kerjasama yang sudah dibangun selama satu dekade bersama temannya itu adalah ketika seorang tamu meminta Sezai mencampurkan makanan yang disajikannya dengan saus sambal botolan.
“Tamu tidak akan bisa nego untuk menambahkan bumbu pada makanan yang saya buat. Prinsip saya, uang tidak bisa membeli kebudayaan. Makanan yang saya sajikan sudah dibuat dengan bumbu yang kuat, sesuai dengan lidah orang Indonesia. Tidak terlalu kuat seperti kuliner India, namun juga tidak ringan seperti makanan Eropa,” jelas Sezai.
Prinsip memegang kuat resep makanan Turki itu diakui Sezai menjadi salah satu cara yang dilakukannya agar selalu ingat dengan tradisi keluarga. Soal latar belakang memasak, anak kedua dari lima bersaudara ini ternyata sudah berkenalan dengan masak-memasak sejak usia sembilan tahun.
“Saya lima bersaudara laki-laki semua. Sejak umur 9 tahun saya bantu Ibu untuk potong sayur dan memutar roti. Tempat kami memasak itu di taman di tengah rumah. Jadi kami pun semakin terasah untuk dapat mengenali bumbu masakan hanya dengan mencium aromanya. Selain itu, karena keluarga saya adalah keluarga petani, saya juga semakin paham dengan berbagai jenis sayuran,” kata pria yang selalu menyempatkan diri pulang kampung dua bulan sekali untuk mencium kaki sang Ibu ini.