Dunia, Repertoar, Berita analisis, Regional

Misi Kristen sebagai imperialisme melalui institusi sekolah

Sistem sekolah berasrama India di Kanada mengungkapkan kemajuan agama Kristen, dan imperialisme berjalan beriringan

Ahmet Gençtürk   | 04.07.2021
Misi Kristen sebagai imperialisme melalui institusi sekolah Ribuan warga ikut serta dalam aksi penghormatan ke sekolah asrama Mohawk Institute, yang diselenggarakan oleh Pusat Dukungan Pribumi Regional Brantford, untuk anak-anak yang kehilangan nyawa saat tinggal di sekolah asrama pada 01 Juli 2021 di Branford, Ontario, Kanada. (Seyit Aydoğan - Anadolu Agency)

Ankara

Ahmet Gencturk

ANKARA 

Penemuan lebih dari 1.000 jenazah anak pribumi di pinggiran sekolah asrama di Kanada mengejutkan banyak pihak.

Tapi seharusnya tidak perlu terkejut.

Lagi pula, itu hanya satu bagian dari banyak bagian penderitaan masyarakat adat di tangan imperialisme barat, yang sering menggunakan agama Kristen dan misinya sebagai alat untuk mencapai kepentingan material dan menyebarkan ideologi di wilayah ekstra-barat.

Hubungan yang terjalin antara pendidikan misionaris Kristen dan imperialisme barat sudah lama dan kokoh.

Itu terjadi pada pertengahan abad ke-16 ketika Gereja Katolik mengakui kegunaan pendidikan untuk membela dan memajukan agama selama era kontra-reformasi.

Sekitar waktu yang sama, Gereja Katolik ingin merevitalisasi misi asing sesuai dengan ambisi imperialis Perancis, Spanyol dan Portugal - terutama misi Fransiskan dan Jesuit yang beroperasi di wilayah yang luas, dari Timur Dekat, kemudian di bawah kekuasaan kekaisaran Ottoman, lalu Amerika, Timur Jauh, di bawah perlindungan diplomatik langsung dan dukungan ekonomi oleh kekuatan imperialis.

Mereka tidak hanya ingin mengubah keyakinan penduduk non-Kristen tetapi juga warga Kristen Timur, termasuk Ortodoks Yunani, Asyur, Armenia, Melkit, dan Nestorian. Dalam hal ini, pendidikan Katolik memanifestasikan dirinya sebagai sarana Kristenisasi yang paling efisien dan meyakinkan yang sebagian besar berjalan seiring dengan westernisasi.

Misalnya, pengaruh Prancis di Timur Dekat dimulai pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 ketika misionaris Jesuit mulai mempromosikan bahasa dan budaya Prancis bersama dengan agama Katolik di sekolah-sekolah mereka di Istanbul, Aleppo, Beirut, dan banyak tempat lain di dunia.

Akibatnya, misi Katolik Fransiskan, yang bertindak sebagai agen imperialisme Prancis telah memperburuk hubungan antara penduduk Kristen lokal dan non-Kristen dan menyebabkan perpecahan internal dan kerenggangan dengan penduduk asli.

Demikian pula, misi Fransiskan Katolik, dari awal abad ke-17 dan seterusnya, memfasilitasi ekspansi imperialisme Spanyol di Amerika dengan mengajarkan kebajikan menjadi "subjek Kristen yang tunduk dari Kekaisaran Spanyol."

Gerakan misionaris Protestan modern yang muncul pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 di Inggris dan AS meniru metode evangelisasi Katolik melalui sekolah.

Di zaman imperialisme ini, dari tiap tahap usaha mereka, misi Protestan mengoperasikan sekolah di setiap tingkatan, mereka hadir di semua wilayah. Banyak sekolah asing di Timur Dekat, seperti Anatolian College di Thessaloniki, Yunani, Robert College di Istanbul. Universitas Amerika di Kairo dan Beirut, sebagai bukti sejarah mereka hingga abad ke-19.

Mengindoktrinasi penduduk asli tentang supremasi moral dan material, alih-alih secara langsung mengkhotbahkan Protestantisme, sekolah misionaris bertindak sebagai agen yang antusias dari imperialisme Anglo-Saxon di seluruh dunia.

Jeremy Salt dengan tepat menyoroti bahwa para misionaris, baik di Kekaisaran Ottoman, India atau China atau di beberapa Pulau Pasifik yang jauh, tidak hanya pembawa kebenaran Injil tetapi juga datang sebagai perwakilan dari ras Anglo-Saxon dan agen yang lebih umum dari peradaban Barat yang unggul.

Terkait dengan itu, Edward Said memberikan perhatian pada peran fasilitator misionaris dalam perluasan imperialisme dari Australia ke Hindia Barat dengan menjajah pikiran penduduk lokal di sekolah mereka.

Namun efek misionaris pada masyarakat adat Amerika Utara termasuk yang paling brutal dan menyedihkan. Karena kurang terorganisirnya negara-negara itu dan sumber materialnya terhadap penetrasi penjajahan Perancis, Inggris dan Amerika di tanah mereka, mereka tidak dapat mencegah tanah leluhur mereka dicuri oleh para pemukim kulit putih yang datang dari sisi lain Atlantik.

Kasus Amerika dikenal lebih baik karena sejumlah besar beasiswa serta film dan serial televisi telah diproduksi tentang penderitaan penduduk asli India dalam perjalanan penjajahan tanah yang sekarang menjadi AS.

Kesengsaraan lama masyarakat adat di Kanada, di sisi lain tetap diabaikan. Mungkin berkat keberhasilan negara itu dalam menampilkan dirinya sebagai negara yang damai, cinta damai, ramah tanpa masalah domestik atau internasional yang signifikan.

Kanada yang menjanjikan tanah bebas dan subur bagi pemukim kulit putih Eropa, menarik gelombang imigrasi selama abad ke-19.

Setelah dilucuti dari tanah leluhur mereka, masyarakat adat dipaksa untuk menjalani kehidupan yang terbatas dalam reservasi yang didorong oleh Undang-Undang India Kanada tahun 1876.

Undang-undang tersebut juga mewajibkan sekolah berasrama bagi anak-anak pribumi, sebagai bagian dari kebijakan yang memaksa oleh pemerintah Kanada untuk mengasimilasi warga pribumi dan mengganti budaya dan agama asli mereka dengan budaya Inggris, Prancis, dan Kristen.

Meskipun dijalankan oleh gereja Katolik Roma, Protestan Anglikan, gereja United dan Presbiterian, sekolah-sekolah tersebut dibiayai dan didorong oleh pemerintah Kanada.

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Kanada (TRC) memperkirakan, sebanyak 150.000 anak-anak pribumi menghadiri sekolah berasrama India dari tahun 1876 hingga 1996 ketika sekolah berasrama terakhir di Kanada ditutup.

Sistem sekolah berasrama merugikan anak-anak pribumi di Kanada secara signifikan karena telah menjauhkan mereka dari keluarga, menjauhkan mereka dari bahasa dan budaya leluhur, dan mengalami banyak kekerasan fisik dan seksual.

Terputus dari keluarga dan budaya namun mereka dipaksa untuk berbicara dalam bahasa Inggris atau Prancis, para siswa pribumi dari sistem sekolah berasrama sering kali lulus dari sekolah namun tidak dapat menyesuaikan diri dengan komunitas mereka. Mereka juga tetap bersikap rasis dalam masyarakat arus utama Kanada.

Sistem tersebut akhirnya berhasil mengganggu peralihan praktik dan kepercayaan adat lintas generasi pribumi Kanada, seperti tujuan awalnya.

Selain itu, warisan sistem sekolah berasrama telah menyebabkan meningkatnya stres pasca-trauma, alkoholisme, penyalahgunaan narkoba, dan bunuh diri di kalangan komunitas adat.

Setelah membentuk komisi untuk menyelidiki konsekuensi yang luas dari sistem sekolah berasrama India dan keputusan untuk memberikan kompensasi kepada para korban, pemerintah Kanada sekarang mendesak Gereja Katolik untuk meminta maaf atas perannya.

Namun hal ini tidak menggali inti persoalan, yaitu pemanfaatan agama Kristen untuk memajukan kepentingan negara yang bersifat sementara.

Dalam kasus Kanada, negara dengan sengaja dan sistematis mengeksploitasi agama Kristen untuk menjajah tanah dan pikiran masyarakat adat.

Mengkambinghitamkan gereja, khususnya Katolik, akan tampak seperti memutarbalikkan fakta sejarah, kecuali pemerintah Kanada akan sepenuhnya menerima tanggung jawab historisnya dan berbuat lebih banyak lagi untuk memulihkan harga diri, tanah, dan hak masyarakat adat.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın