Dunia, Berita analisis

BDS: Dukungan untuk Palestina harus lebih efektif

Boikot, Divestasi, Sanksi menjadi gerakan global yang didukung oleh banyak institusi, serikat pekerja, gereja, dan gerakan akar rumput

Maria Elisa Hospita   | 16.07.2019
BDS: Dukungan untuk Palestina harus lebih efektif Ilustrasi: Gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS). (Foto file - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Burak Bir

ANKARA 

Dukungan untuk Palestina harus bergeser dari tingkat retoris ke tingkat yang lebih efektif untuk mencegah peningkatan penindasan Israel.

"Tantangan utama di negara-negara mayoritas Arab dan Muslim adalah mengubah dukungan untuk pembebasan tahanan Palestina dari tingkat retoris menjadi tekanan yang efektif," ujar Hind Awwad, pejuang HAM Palestina yang tergabung dalam gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS).

Saat diwawancarai dalam acara peringatan 14 tahun gerakan BDS, Awwad mengatakan penekanan terhadap institusi dan perusahaan Israel adalah kebutuhan yang mendesak untuk mencegah penindasan Israel terus berlanjut.

"BDS Mesir berperan penting dalam mendorong Orange [perusahaan telekomunikasi Prancis] untuk keluar dari pasar Israel. Veolia (perusahaan asal Prancis di sektor manajemen air, limbah, dan energi) telah merugi lebih dari USD2,25 miliar setelah pembantaian Israel di Gaza pada 2014," ujar dia.

Terinspirasi oleh Afrika Selatan

Pada mulanya, pada 2005, BDS diinisiasi oleh 170 serikat pekerja Palestina, organisasi pengungsi dan perempuan, komunitas profesional, serta kelompok oposisi sehubungan dengan pelanggaran Israel terhadap hukum internasional.

"BDS terinspirasi perjuangan menghapuskan politik apartheid di Afrika Selatan melalui beragam bentuk boikot, divestasi, dan sanksi," tutur aktivis itu.

Dia menambahkan bahwa oposisi komunitas internasional terhadap pembangunan tembok Israel di wilayah Palestina berperan besar dalam pembentukan gerakan itu.

"BDS diluncurkan tepat satu tahun setelah Mahkamah Internasional (ICJ) menegaskan bahwa pembangunan tembok Israel yang dibangun di wilayah Palestina ilegal," jelas Awwad.

Gagalnya upaya perdamaian

Awwad mengatakan resolusi PBB yang mengecam tindakan Israel berkali-kali tak kunjung berhasil.

"Upaya perdamaian telah gagal menekan atau memaksa Israel untuk mematuhi hukum kemanusiaan, menghormati hak-hak asasi mendasar, dan mengakhiri pendudukan dan penindasan terhadap rakyat Palestina," kata dia lagi.

Menurut dia, metode "boikot" DBS melibatkan penarikan dukungan ke bidang olahraga, budaya, dan pendidikan Israel.

Sementara "divestasi" bertujuan mendorong bank untuk menarik investasi dari Israel.

Kemudian "sanksi" adalah bagian lain dari kampanye untuk menekan pemerintah menunaikan tanggung jawab mereka dalam mengakhiri tindakan sewenang-wenang Israel.

Dukungan dan dampak

Menurut Awwad, BDS menjadi gerakan global yang didukung oleh banyak institusi, serikat pekerja, gereja, dan gerakan akar rumput.

"Kelompok-kelompok Yahudi progresif berperan banyak dalam gerakan ini. Tokoh-tokoh publik termasuk Uskup Agung Desmond Tutu, Naomi Klein [penulis Kanada], Roger Waters [musisi], Angela Davis [aktivis politik], dan Judith Butler [filsuf] mendukung BDS," papar dia.

Aktivis itu juga mengapresiasi sejumlah tokoh yang berpartisipasi dalam boikot budaya karena mereka sadar akan pelanggaran Israel terhadap hak-hak Palestina.

"Tahun lalu, artis-artis besar seperti Lana Del Rey dan Shakira membatalkan konser mereka di Israel. Dampak tindakan semacam ini cukup signifikan," tambah Awwad.

Sejak diresmikan sebagai gerakan global pada 9 Juli 2005, BDS memiliki misi untuk mengakhiri dukungan internasional ke Israel dan menekan negara Yahudi itu untuk mematuhi hukum internasional.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın