Dunia, Berita analisis

Serangan Israel ke kantor Anadolu Agency adalah tindakan kriminal

Serangan Israel terhadap jurnalis bertujuan untuk mencegah laporan tentang pendudukan Israel atas tanah Palestina

Rhany Chairunissa Rufinaldo   | 16.07.2019
Serangan Israel ke kantor Anadolu Agency adalah tindakan kriminal Seorang anak Palestina menatap kantor Anadolu Agency yang hancur total setelah pesawat-pesawat tempur Israel menghantam Kota Gaza, pada 05 Mei 2019. (Ali Jadallah - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Burak Bir

ANKARA 

Serangan Israel terhadap kantor Anadolu Agency di Jalur Gaza pada Mei lalu hanyalah salah satu dari banyak serangan kriminal terhadap media, menurut seorang pembela hak asasi manusia Palestina.

"Serangan Israel terhadap kantor Anadolu Agency di Gaza adalah pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Ini adalah salah satu dari banyak serangan kriminal Israel terhadap wartawan yang bertujuan untuk mencegah dokumentasi dan laporan tentang pendudukan Israel dan kebijakan sistematis Israel, kolonialisme pemukim dan sikap apartheid terhadap bangsa Palestina," kata Hind Awwad, yang berasosiasi dengan gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS).

Dalam sebuah wawancara untuk memperingati 14 tahun gerakan itu, Awwad mengatakan pihaknya selalu menyerukan embargo militer yang luas terhadap Israel karena penolakannya terhadap hak-hak Palestina dan serangan terhadap para jurnalis di Gaza.

"Kami meminta Turki untuk memulai pengakhiran semua perdagangan militer dengan Israel," ujar dia.

Pada 4 Mei, pesawat tempur Israel menyerang sebuah gedung di Gaza di mana kantor Anadolu Agency berlokasi, dengan sedikitnya lima roket setelah tembakan peringatan.

Tidak ada korban tewas dan cedera dalam insiden tersebut, tetapi bangunan itu hancur. 

Pelanggaran hukum internasional

Berbicara tentang keputusan parlemen Jerman pada Mei untuk memberi label "anti-Semit” kepada gerakan BDS, Awwad menekankan bahwa gerakan itu menolak semua bentuk rasisme, termasuk anti-Semitisme.

"Gerakan BDS mengutuk resolusi anti-Palestina, McCarthyite dan inkonstitusional yang disahkan oleh parlemen Jerman. Ini adalah pengkhianatan terhadap hukum internasional, demokrasi Jerman dan perjuangan melawan rasisme anti-Yahudi yang nyata," tegas dia.

Awwad mengatakan melalui keputusan ini, Jerman berusaha melindungi Israel agar tidak dimintai pertanggungjawaban atas pelanggaran hukum internasionalnya.

"BDS menargetkan keterlibatan, bukan identitas. Boikot akademik dan budaya Israel adalah sepenuhnya institusional dan tidak menargetkan individu Israel," ujar Awwad.

Dia menyerukan kepada rakyat Jerman untuk membela hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi dengan membela hak untuk memboikot, melepaskan dan memberikan sanksi.

"Gerakan BDS berlabuh dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan menolak semua bentuk rasisme," tambah Awwad.

Pada 17 Mei, Bundestag mengadopsi resolusi yang menyamakan gerakan itu dengan "anti-Semitisme".

Resolusi itu juga mengimbau untuk memotong pendanaan organisasi yang secara aktif mendukung gerakan ini. 

Kasus Barghouti

Menyinggung keputusan pemerintah Amerika Serikat untuk menolak kedatangan Omar Barghouti, salah satu pendiri gerakan BDS, pada April, Awwad mengatakan larangan itu bermotivasi politik dan bagian dari penindasan Israel terhadap Palestina.

"Kami akan mengintensifkan perjuangan bersama melawan fasisme dan rasisme dalam segala bentuk melalui perjuangan yang konsisten secara moral untuk keadilan, untuk martabat dan kehidupan yang layak dijalani, seperti yang pernah dikatakan oleh penyair kita Mahmoud Darwish," kata dia, mengutip Barghouti.

Tentang perjuangan untuk kemerdekaan Palestina, dia menekankan bahwa keadilan dan kesetaraan yang mengajak pada penghentian segala bentuk hubungan dengan kejahatan Israel adalah bentuk solidaritas yang paling efektif dengan Palestina.

"Sejak diluncurkan, BDS memiliki dampak besar dan secara efektif menentang dukungan internasional terhadap apartheid dan kolonialisme pemukim Israel," ujar Awwad.

Dia menambahkan bahwa BDS mengirim pesan secara eksplisit kepada Palestina dan pemerintah di seluruh dunia bahwa jumlah orang yang menolak untuk menerima pelecehan Israel atas hak-hak Palestina meningkat. 

Tujuan BDS

BDS didirikan pada 2005 oleh 170 kelompok masyarakat sipil dan hak asasi manusia Palestina.

Organisasi itu menyerukan boikot terhadap perusahaan-perusahaan Israel yang terlibat dalam pelanggaran hak-hak Palestina.

BDS juga menyerukan lembaga-lembaga publik dan swasta untuk melepaskan diri dari perusahaan-perusahaan Israel sebagai cara untuk menekan negara itu.

Kelompok tersebut juga menyerukan kampanye sanksi sebagai cara menekan pemerintah untuk memenuhi kewajiban hukum mereka dalam mendesak Israel bertanggung jawab atas kejahatannya terhadap Palestina.

Menurut situs webnya, BDS bertujuan untuk mengakhiri dukungan internasional terhadap Israel dan menekan negara Yahudi itu untuk mematuhi hukum internasional.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın