Regional

Teluk Bahang tercemar, 50.000 ikan mati

Sebelumnya pada Mei ribuan kerapu juga ditemukan mati

Muhammad Nazarudin Latief  | 12.08.2019 - Update : 13.08.2019
Teluk Bahang tercemar, 50.000 ikan mati Ilustrasi - Kematian ikan massal akibat perubahan temperatur air di Danau Citra, Jakarta pada tahun 2015 lalu. (Wahyu M - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Muhammad Latief

JAKARTA

Diperkirakan sekitar 50.000 ikan mati di Teluk Bahang, Kuala Lumpur, karena pencemaran logam berat yang mengurangi kadar oksigen pada air, Minggu.

Para petambak diperkirakan mengalami kerugian hingga RM800.000.

Ketua komite lingkungan negara bagian, Phee Boon Poh mengatakan ini adalah kasus kedua di Teluk Bahang sejak Mei ketika ribuan ikan kerapu juga ditemukan mati.

Dia mengkonfirmasi keberadaan logam berat tetapi mengatakan itu tidak berlebihan.

“Tidak, bukan nikel. Ini logam berat tapi dalam level yang diizinkan. Kematian disebabkan oleh kekurangan oksigen,” ujar dia.

Peternak ikan Ooi Hye Hin, yang juga mengalami kejadian Mei lalu mengatakan kepada The Star bahwa dia melihat ikannya melompat keluar dari air pada dini hari kemarin.

Di pagi hari, dia menemukan semua ikannya mati.

“Itu terjadi pada Mei. Sekarang, ini lebih buruk karena semua 50.000 plus ikan saya sudah mati dan tidak ada yang bisa diselamatkan. Mereka berharga sekitar RM800.000,” kata Ooi.

"Saya tidak bisa melanjutkan usaha ini lagi," kata Ooi, menambahkan bahwa dia telah berkecimpung dalam bisnis pembudidayaan ikan selama hampir 20 tahun.

Direktur Pusat Studi Kelautan dan Pesisir (Cemacs) Datuk Aileen Tan mengatakan ada logam berat yang terdeteksi tetapi tidak pada level yang cukup tinggi untuk membunuh ikan.

“Kami telah mendeteksi pergeseran keanekaragaman fitoplankton dan juga konsentrasi tinggi.

“Tanda eutrofikasi (nutrisi berlebihan) di teluk dangkal yang dapat menyebabkan penipisan oksigen terlarut - nutrisi berlebihan di dalam air (fosfat dan amonia).

“Dalam pemantauan kami sejak saat itu, tingkat nutrisi masih tinggi.

"Kali ini, mungkin sedikit berbeda karena arus yang kuat dan gelombang dari Topan Lekima mungkin telah mengaduk beberapa racun dari dasar laut," kata dia.

Tan juga tidak mengesampingkan kualitas air yang memburuk di Teluk Bahang.

“Faktor gabungan dari racun dan oksigen terlarut yang rendah mungkin telah menyebabkan lingkungan yang tertekan pada ikan di sekitar daerah itu,” lanjut Tan.

Petugas sains Cemacs, Sim Yee Kwang mengatakan suhu air, kadar garam dan pH normal, tetapi kadar oksigen dalam air lebih rendah dari normal.

Pada Mei, Cemacs telah melaporkan bahwa tingkat nikel adalah 1.038 persen lebih tinggi daripada seharusnya di laut dekat Taman Nasional Penang dan 982 persen lebih tinggi di peternakan ikan di Teluk Bahang.

Laut lepas Teluk Bahang dikatakan terkontaminasi oleh logam-logam berat sementara di Nibong Tebal, air di muara sungai Tengah berwarna hitam, sebuah masalah yang menurut para nelayan di sana telah menjangkiti mereka selama sekitar 10 tahun.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın